Sering denger kata SKS? Sering dong…. SKS itu apa sih?
SKS itu bukan singkatan dari sistem kebut semalam, melainkan sistem kredit semester yang mungkin aja akan dicanangkan pemerintah untuk mengganti sistem pendidikan sebelumnya.
Kita flashback dulu…, udah berapa sistem sih yang pemerintah terapkan bagi pendidikan kita? Mulai kurikulum 1994, kurikulum 2004, KBK, KTSP, dan kemudian SKS ini.
Nah, kenapa sih ada sistem SKS ini? Ada loh di Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dalam Pasal 11 Ayat 3 yang menyatakan, beban belajar untuk SMA pada jalur pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester.
SKS ini mirip perkuliahan gitu deh. Peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti tiap semester. Nah, bebannya itu namanya Sistem Kredit Semester (SKS). Dan di Jakarta ini sekolah negeri yang pertama kali memakai SKS adalah SMA Negeri 78 Jakarta sejak tahun pelajaran 2006/2007 dan tahun ini udah memasuki tahun kedua.
Gimana sistemnya?
Kalo kalian mukulin orang pakai tas punya murid SKS reguler, dijamin tuh orang gak bakal cedera sedikit pun. Kenapa? Soalnya tas-nya luar biasa enteng, secara… sehari palingan cuma ada tiga atau empat pelajaran aja dan total pelajaran dalam satu semester hanya tujuh pelajaran.
Memang asyik sih beban pelajarannya agak ringan, tapi... kamu harus kuat mental. Walaupun kamu masih kelas satu SMA, tapi kamu akan mendapatkan pelajaran kelas dua atau tiga SMA dan begitu sebaliknya jika kamu kelas dua atau tiga, kamu juga akan mendapatkan pelajaran di tingkat bawahmu yang belum sempat kamu cicipi di semester sebelumnya.
Mata pelajaran itu sendiri dibagi menjadi tiga kelompok: mata pelajaran umum, wajib, dan pilihan. Kalo muatan lokalnya ada Pendidikan Lingkungan Hidup Kota Jakarta, Sinematografi, dan Robotika. Sementara kegiatan pengembangan diri ada ekstrakurikuler, layanan bimbingan konseling, dan kegiatan pembiasaan.
Mungkin abu-abuers sekalian bertanya-tanya kenapa pelajarannya luar biasa sedikit di SKS ini? Nah, tiap pergantian semester kita akan mengisi kartu rencana studi (KRS), di mana tiap siswa bebas memilih pelajaran apa saja yang mereka inginkan sesuai jumlah SKS yang mereka punya.
Jika siswa memiliki total 24 SKS dengan IP di atas 2,70, kira-kira pelajaran yang akan didapat 9-11 mata pelajaran dan jika nilai IP di bawah 2,70, hanya mendapat total 20 SKS dengan 7-10 mata pelajaran, dan jika IP di atas 3, dapat memilih 10-14 mata pelajaran dengan total 32 SKS.
Tapi, ada tas murid-murid SKS yang lebih berat dan beban pelajarannya dahsyat. Mereka ada di kelas Siswa Cerdas Istimewa atau SCI. Dan..., di sanalah tempat berkumpulnya murid-murid yang IP-nya di atas tiga, cerdas dan istimewa.
Kelas SCI bisa dikatakan sama dengan kelas akselerasi atau kelas percepatan. Namun, karena sistemnya SKS, jadi pasti ada bedanya.
Teman kita, Jonathan, anak SCI di SMA N 78 Jakarta, bilang, ”Semester ini di SCI ada 10 pelajaran dengan 32 SKS, jadi mental dan disiplin kita dilatih. Kalo dibandingin sama reguler, sebenarnya SCI dengan sistem SKS lebih asyik karena siswanya dikit, jadi kerasa kekeluargaan.”
Pemilihan mata pelajaran pada semester I disebut pilihan terbatas karena ada paket yang disediakan sekolah. Semester II disebut pilihan terbimbing, artinya paket mata pelajaran yang pemilihannya dibimbing oleh penasihat akademik (kalo di sekolah lain namanya wali kelas).
Semester III dan seterusnya disebut pilihan diperluas, yaitu menu atau paket mata pelajaran kekhasan program dapat dikayakan dengan mata pelajaran lintas program, dan ada juga pilihan terbatas. Artinya, menu atau paket mata pelajaran ditentukan sekolah dan diberlakukan untuk semua peserta didik, yaitu 10 mata pelajaran.
Nah, tenang aja abu-abuers, di sistem ini kalian semua bakal naik kelas, he-he. Tapi…, kalau naik semester gak janji deh soalnya paling cepat pendidikan dengan sistem SKS ini dapat ditempuh selama 2 tahun, normalnya 3 tahun, paling lambat 4 tahun dan maksimalnya 5 tahun.
”Moving class”
Penyelenggaraan SKS dibagi menjadi kegiatan tatap muka alias belajar di kelas, kegiatan tugas struktur, dan tugas mandiri. Strategi pembelajarannya dengan sistem moving class, kelas bergerak gitu deh.
Jadi, jangan heran kalo ada murid yang rame-rame keluar kelas saat masih jam pelajaran. Kalo kelas reguler, pas ganti pelajaran abu-abuers pasti nunggu guru di kelas sambil buka-buka majalah, dandan, ngobrol, atau ngerjain PR. Tapi, kalo sistem SKS ini, kita musti buru-buru angkat kaki ke kelas lain yang sesuai dengan mata pelajaran selanjutnya.
Hal ini menguras tenaga cukup banyak loh! Coba bayangin kalo pelajaran pertama kita di lantai satu, pelajaran kedua di lantai empat, pelajaran ketiga di lantai satu, dan keempat di lantai empat, bisa-bisa betis abu-abuers jadi kayak pemain bola semua.
Tapi, walau capek, moving class cocok untuk sekolah yang lumayan gede, jadi abu-abuers bisa tau kelas lainnya dan ketemu abu-abuers lain pas moving itu. Apalagi kalo ada ulangan…, wuuuuiiihhh…, sekolah bakalan gempa! Masalahnya abu-abuers pada lomba lari ke kelas selanjutnya untuk mencari tempat strategis!
Nah, karena tiap mata pelajaran memiliki kelasnya tersendiri, kelas-kelas tersebut memiliki fasilitas yang menunjukkan karakter kelas itu. Misalnya ruang kesenian SMA N 78 di 2.12 yang dipenuhi dengan karya-karya siswa berupa gambar, lukisan, miniatur, dan kesenian lainnya. Ada juga ruang kimia di 1.15 yang dipenuhi contoh-contoh atom dan gambar-gambar tokoh-tokoh ahli kimia.
Penilaian SKS
Penilaian di sistem ini mencapai ketuntasan sebesar 75 persen, terdiri dari penilaian proses dan hasil. Penilaian proses adalah penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi melalui ulangan harian, pengamatan sikap, unjuk kerja secara individual maupun kelompok, tugas, penilaian produk/proyek, dan portofolio.
Penilaian hasil itu sendiri adalah penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi melalui ujian tertulis pada tengah semester dan akhir semester. Nah, abu-abuers yang belum tuntas berhak mengikuti remedial yang dilakukan sepanjang waktu sampai akhir semester.
Gimana abu-abuers? Masih kelenger dengan sistem ini? Gak lagee dong ya?! (Tim SMAN 78 Jakarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar