Implikasi Pengalaman Sekolah Bertaraf Internasional
Implikasi Pengalaman Sekolah Bertaraf Internasional
(What Can We Learn?)
Bagaiama kita dapat belajar dari, dan menggunakan konsep SBI. Kalau Kemendiknas percaya bahwa sekolah R/SBI dapat mencapaikan pendidikan yang lebih bermutu, apakah itu hanya logikal (masuk akal)kalau standar itu menjadi Standar Sekolah Nasional dan menghapus diskriminasi dari konsep SBI (sekolah yang berbeda) yang Tidak Adil dan tidak Mengarah Ke Pemerataan Mutu Pendidikan Untuk Semua?
Kita perlu mengarah ke konsep Sekolah Bertaraf Nasional (SBN). Pasti semua sekolah SBN boleh mengarah ke mutu bertaraf internasional juga, mengapa tidak? Ini kemajauan. Membuat fondasi berbasis; Metodologi Terbaik dan mencari Cara Kita Dapat Mencapaikan Sarana Prasarana yang Manusiawi di Semua Sekolah di Indonesia...
Ayo, mari kita coba membantu merubah paradigmanya. Tetapi jelas perubahannya harus dilakukan di tingkat lapangan, solusi-solusi seperti SBI yang muncul dari manajemen pendidikan kita hanya meningkatkan frustrasi di lapangan luas kan? Dengan MBS dan Pembelajaran Aktif, yang tidak kena biaya dan adalah kuncinya pendidikan internasional yang bermutu kita dapat mulai. Misalnya satu isu yang disebut penting (di SBI), meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Inggris dan perannya di sekolah, adalah isu yang lebih terkait niat, sikap, dan dedikasi daripada isu lain....
Mutu pendidikan-nya sangat tergantung guru atau dosen yang melaksanakan pembelajaran-nya. Di hampir semua sekolah atau kampus yang saya kunjungi ada guru atau dosen yang mengajar secara efektif dan berjuang untuk mengajak pelajarnya aktif dalam proses pembelajaran. Ini sangat tergantung kemampuan (dan kepedulian) pendidiknya secara masing-masing. - Inilah adalah maslahnya.
Saya sudah menyaksikan pembelajaran di sekolah kecil di desa, misalnya di Pacitan yang hebat sekali. Saya juga sering menyaksikan metodologi di sekolah favorit di Jakarta saja yang mengingatkan saya mengenai metodologi yang sudah digunakan 27 tahun yang lalu, waktu saya baru datang ke indonesia (100% Hafalan & Pelajar Duduk Manis :-).
Walapun saya tidak setuju dengan kebijakan R/SBI dilaksanakan sekarang dengan puluhan ribu sekolah yang masih dalam keadaan rusak atau ambruk, dan fasilitas dasar tidak ada di banyak sekali sekolah lain (sangat tidak adil), sebenarnya ada beberapa isu yang muncul dari pengalaman coba mengarah ke sekolah bertaraf internasional yang mempunyai beberapa implikasi untuk kurikulum dan bentuk sekolah umum masa depan (untuk semua), maupun reaksi rakyat pada umum juga mencirmankan keinginan rakyat untuk meninggalakan model sekolah yang lama.
Masalah kita (menurut saya) adalah kita belum mempunyai model untuk sekolah bertaraf nasional yang sesuai zaman. Kita juga belum mempunyai fondasi pendidikan yang jelas termasuk, filosofi, metodologi yang tepat, atau cara kita dapat melaksanakan pendidikan yang bermutu dengan kurikulum yang ada, apalagi dengan sistem penilaian yang kayaknya susah dirubah :-) Tetapi kita masih bisa berhasil.... :-)
Tampilkan postingan dengan label 11. PENDIDIKAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 11. PENDIDIKAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Senin, 27 September 2010
Rabu, 01 September 2010
wajah sekolah kita, wajah pendidikan indonesia?
mrbambang
mengembara di fatamorgana dunia
Wajah Sekolah Kita, Wajah Pendidikan Indonesia?
by mrbambang on Feb.04, 2010, under Opini
Selasa kemarin, saya bersama beberapa teman-teman media berkunjung ke sebuah sekolah dasar di daerah puncak, tepatnya di
SDN Cikoneng, Cisarua, Bogor. Bukan dalam rangka kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, kebetulan tempat itu dekat dengan lokasi acara CSR salah satu vendor dan memang satu-satunya gedung di tengah hamparan pegunungan dengan perkebunan teh.
hujan
Sampai di sana, langsung disambut dengan hujan deras sehingga acara pun diundur untuk beberapa waktu lamanya. Masa menunggu ini saya manfaatkan dengan melihat-lihat kondisi sekolahan tersebut. Sekaligus nostalgia mengenang masa-masa masih SD. Cukup miris melihat kondisi sekolahan yang seperti ini. Tidak terawat. Meskipun saya tahu -berdasar info di media cetak dan elektronik- bahwa selain sekolah ini, sangat banyak kondisi sekolah lain di Indonesia yang mengalami nasib serupa. Ratusan, mungkin ribuan.
Kondisi ini tentu saja sangat ironis jika dibandingkan dengan fasilitas mewah yang diperoleh para pejabat tinggi negara ini. Para menteri mendapat Toyota Crown Royal Saloon yang masing-masing seharga sekitar Rp 1,3 miliar. Kemudian anggaran pengadaan pesawat VVIP Presiden sekitar Rp 200 miliar, anggaran renovasi pagar istana negara Rp 22,581 miliar. Ini hanya beberapa contoh saja, yang lain masih banyak. Termasuk penjara mewah Arthalyta. Mengherankan jika penjara saja yang seharusnya bisa membuat seseorang jera, tetapi sangat mewah. Berbanding terbalik dengan sekolah yang untuk mendidik putra putri bangsa, tetapi kondisinya memprihatinkan. Ya, ini memang masalah yang sangat klasik.
Bagaimana bisa bersaing dengan negara lain yang kualitas pendidikannya sudah jauh lebih maju? Konon, dari cerita orang-orang, sejak masa SD saja mereka hasil kerajinan atau karyanya sudah semacam robot dan sejenisnya. Sejak kecil mereka sudah belajar teknologi. Sementara itu ketika saya SD dulu, karya yang saya buat sebagai tugas sekolah seperti membuat sapu, keset dan lainnya yang masih sangat sederhana. Itu waktu saya kecil dulu, sekitar 15 tahun yang lalu.
Bagaimana dengan sekarang? Seharusnya sudah semakin maju apalagi untuk sekolah mahal di kota besar. Tetapi ketika saya berkunjung ke SD itu, rasa miris semakin bertambah. Lihat saja, seperti gambar di bawah. Di salah satu ruang kelas saya menemukan dua buah mainan mobil-mobilan yang terbuat dari bungkus rokok dan bekas sandal yang dipotong lingkaran untuk dijadikan roda-roda. Mainan yang dibuat dengan biaya sangat murah meriah, nyaris tidak beli. Berbeda jauh dengan mainan milik anak orang kaya yang harganya ratusan ribu. Anak orang kaya yang belajar di sekolah mewah berstandard internasional dengan biaya per bulan mencapai jutaan rupiah.
Bagi anak orang kaya, mereka bisa nyaman belajar dengan fasilitas lengkap dan super canggih. Dari kecil sudah belajar internet, belajar ngeblog, memiliki akun Facebook. Juga alat komunikasi canggih semacam BlackBerry atau iPhone. Tapi bagi masyarakat kebanyakan yang penghasilannya pas-pasan, mereka harus berpuas menyekolahkan anaknya belajar di sekolah yang apa adanya. Ya sekolah seperti inilah tempat untuk mendidik generasi masa depan bangsa. Inilah tempat untuk mencetak sumber daya manusia di Indonesia. Sampai kapan kondisi pendidikan kita akan terus seperti ini?
mengembara di fatamorgana dunia
Wajah Sekolah Kita, Wajah Pendidikan Indonesia?
by mrbambang on Feb.04, 2010, under Opini
Selasa kemarin, saya bersama beberapa teman-teman media berkunjung ke sebuah sekolah dasar di daerah puncak, tepatnya di
SDN Cikoneng, Cisarua, Bogor. Bukan dalam rangka kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, kebetulan tempat itu dekat dengan lokasi acara CSR salah satu vendor dan memang satu-satunya gedung di tengah hamparan pegunungan dengan perkebunan teh.
hujan
Sampai di sana, langsung disambut dengan hujan deras sehingga acara pun diundur untuk beberapa waktu lamanya. Masa menunggu ini saya manfaatkan dengan melihat-lihat kondisi sekolahan tersebut. Sekaligus nostalgia mengenang masa-masa masih SD. Cukup miris melihat kondisi sekolahan yang seperti ini. Tidak terawat. Meskipun saya tahu -berdasar info di media cetak dan elektronik- bahwa selain sekolah ini, sangat banyak kondisi sekolah lain di Indonesia yang mengalami nasib serupa. Ratusan, mungkin ribuan.
Kondisi ini tentu saja sangat ironis jika dibandingkan dengan fasilitas mewah yang diperoleh para pejabat tinggi negara ini. Para menteri mendapat Toyota Crown Royal Saloon yang masing-masing seharga sekitar Rp 1,3 miliar. Kemudian anggaran pengadaan pesawat VVIP Presiden sekitar Rp 200 miliar, anggaran renovasi pagar istana negara Rp 22,581 miliar. Ini hanya beberapa contoh saja, yang lain masih banyak. Termasuk penjara mewah Arthalyta. Mengherankan jika penjara saja yang seharusnya bisa membuat seseorang jera, tetapi sangat mewah. Berbanding terbalik dengan sekolah yang untuk mendidik putra putri bangsa, tetapi kondisinya memprihatinkan. Ya, ini memang masalah yang sangat klasik.
Bagaimana bisa bersaing dengan negara lain yang kualitas pendidikannya sudah jauh lebih maju? Konon, dari cerita orang-orang, sejak masa SD saja mereka hasil kerajinan atau karyanya sudah semacam robot dan sejenisnya. Sejak kecil mereka sudah belajar teknologi. Sementara itu ketika saya SD dulu, karya yang saya buat sebagai tugas sekolah seperti membuat sapu, keset dan lainnya yang masih sangat sederhana. Itu waktu saya kecil dulu, sekitar 15 tahun yang lalu.
Bagaimana dengan sekarang? Seharusnya sudah semakin maju apalagi untuk sekolah mahal di kota besar. Tetapi ketika saya berkunjung ke SD itu, rasa miris semakin bertambah. Lihat saja, seperti gambar di bawah. Di salah satu ruang kelas saya menemukan dua buah mainan mobil-mobilan yang terbuat dari bungkus rokok dan bekas sandal yang dipotong lingkaran untuk dijadikan roda-roda. Mainan yang dibuat dengan biaya sangat murah meriah, nyaris tidak beli. Berbeda jauh dengan mainan milik anak orang kaya yang harganya ratusan ribu. Anak orang kaya yang belajar di sekolah mewah berstandard internasional dengan biaya per bulan mencapai jutaan rupiah.
Bagi anak orang kaya, mereka bisa nyaman belajar dengan fasilitas lengkap dan super canggih. Dari kecil sudah belajar internet, belajar ngeblog, memiliki akun Facebook. Juga alat komunikasi canggih semacam BlackBerry atau iPhone. Tapi bagi masyarakat kebanyakan yang penghasilannya pas-pasan, mereka harus berpuas menyekolahkan anaknya belajar di sekolah yang apa adanya. Ya sekolah seperti inilah tempat untuk mendidik generasi masa depan bangsa. Inilah tempat untuk mencetak sumber daya manusia di Indonesia. Sampai kapan kondisi pendidikan kita akan terus seperti ini?
Catatan Kemerdekaan: 65 Tahun Berdaulat, Pendidikan Belum Jua Merdeka
Todo Sibuea
Pendapat dan Saran Pribadi Mengenai Isu-Isu Dunia Pengajaran dan Pendidikan
Aug 16
Catatan Kemerdekaan: 65 Tahun Berdaulat, Pendidikan Belum Jua Merdeka
Pada tanggal 17 Agustus 2010, bangsa Indonesia merayakan kedaulatannya yang ke 65. Meski sudah tercapai beberapa kemajuan, masih banyak pula hal-hal yang belum berubah menjadi lebih baik. Salah satu hal yang masih belum mampu berubah (bahkan cenderung mundur) adalah bidang pendidikan. Biarpun bangsa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan bangsa asing selama lebih dari enam dekade, bidang pendidikan nasional malah masih menjalani penjajahan dari sesama saudara sebangsanya.
Dunia pendidikan Indonesia masih belum merdeka karena:
1. Masih banyak murid-murid Indonesia yang belum merdeka untuk belajar. Mereka belum merdeka belajar karena terlalu miskin untuk mendapatkan akses ke sekolah yang lebih memilih murid yang mampu daripada yang tidak mampu. Mereka belum merdeka bersekolah hanya karena alasan sepele: tidak punya seragam, tidak mampu membeli buku, tidak bisa melunasi iuran sekolah.
2. Masih banyak sekolah dan universitas yang menolak untuk memberikan beasiswa ataupun menyisihkan 20 bangku bagi siswa yang tidak mampu tetapi cerdas. Beasiswa ataupun alokasi bangku bagi siswa tidak mampu dianggap sebagai kerugian karena lembaga pendidikan harus mengeluarkan uang daripada mendapatkannya.
3. Dibiarkannya lembaga pendidikan yang tidak jelas berdiri dengan alasan agar pendidikan di setiap daerah merata. Tidak peduli apakah lembaga pendidikan itu bermutu atau tidak, izin pendirian sekolah atau universitas swasta dibuat lebih mudah tanpa adanya konsistensi dalam penilaian apakah sekolah tersebut layak berdiri atau tidak. Dan kalaupun layak berdiri, tidak jelas pula bila lembaga pendidikan tersebut patut dipertahankan atau tidak. Korban dari hal ini adalah murid-murid yang terpedaya karena ketidaktahuan mereka akan mutu pelajaran yang mereka terima dari sekolah atau universitas tersebut.
4. Masih bertahannya UN sebagai satu-satunya alat penentu kelulusan absah para murid Indonesia setelah melewati proses belajar di sekolah selama tiga tahun biarpun banyak korban yang berjatuhan karenanya. Murid-murid dari Sabang sampai Merauke dijajah oleh UN yang sengaja membutakan dirinya terhadap ketimpangan mutu pendidikan di setiap daerah di Indoensia dan tingkat kecerdasan siswa-siswa Indonesia.
5. Pendidikan nasional belum mampu menghasilkan individu yang berpikir merdeka--mampu menyodorkan gagasan atau pendapatnya sendiri. Pendidikan baru sebatas mampu menghasilkan individu yang menghargai perbedaan sebatas pada penampilan namun belum menghargai perbedaan dalam berpikir ataupun berpendapat.
6. Masih bercokolnya manusia-manusia bodoh dengan gelar Profesor dan Magister sebagai penentu kebijakan pendidikan di negara ini. Daripada melihat kenyataan tentang pendidikan di Indonesia, mereka lebih suka melihat kenyataan di luar negeri dan memaksa murid Ibu Pertiwi untuk menyamai kenyataan di luar negeri mereka.
7. Masih bertahannya doktrin kekerasan di dalam sekolah ataupun lembaga pendidikan tinggi. Doktrin kekerasan seperti Ospek atau MOS masih dipertahankan di banyak sekolah dengan alasan kedisiplinan dan kebersamaan. Murid-murid dipaksa untuk mempermalukan diri mereka sendiri daripada menunjukan potensi mereka. Masih banyak pula kasus kekerasan terhadap murid yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah yang tidak tahan kritik dari para muridnya.
Meski negara ini sudah merdeka dan berdaulat selama 65 tahun, untuk dua dekade terakhir ini murid-murid Indonesia masih mengalami penjajahan dan mulai kehilangan jati diri. Kapan penjajahan ini berakhir akan ditentukan oleh perlawanan dari pihak siswa dan orang tua siswa terhadap terhadap manipulasi, kecongkakan, dan kesemena-menaan dari kaum penindas intelektual yang berada di pemerintahan.
Pendapat dan Saran Pribadi Mengenai Isu-Isu Dunia Pengajaran dan Pendidikan
Aug 16
Catatan Kemerdekaan: 65 Tahun Berdaulat, Pendidikan Belum Jua Merdeka
Pada tanggal 17 Agustus 2010, bangsa Indonesia merayakan kedaulatannya yang ke 65. Meski sudah tercapai beberapa kemajuan, masih banyak pula hal-hal yang belum berubah menjadi lebih baik. Salah satu hal yang masih belum mampu berubah (bahkan cenderung mundur) adalah bidang pendidikan. Biarpun bangsa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan bangsa asing selama lebih dari enam dekade, bidang pendidikan nasional malah masih menjalani penjajahan dari sesama saudara sebangsanya.
Dunia pendidikan Indonesia masih belum merdeka karena:
1. Masih banyak murid-murid Indonesia yang belum merdeka untuk belajar. Mereka belum merdeka belajar karena terlalu miskin untuk mendapatkan akses ke sekolah yang lebih memilih murid yang mampu daripada yang tidak mampu. Mereka belum merdeka bersekolah hanya karena alasan sepele: tidak punya seragam, tidak mampu membeli buku, tidak bisa melunasi iuran sekolah.
2. Masih banyak sekolah dan universitas yang menolak untuk memberikan beasiswa ataupun menyisihkan 20 bangku bagi siswa yang tidak mampu tetapi cerdas. Beasiswa ataupun alokasi bangku bagi siswa tidak mampu dianggap sebagai kerugian karena lembaga pendidikan harus mengeluarkan uang daripada mendapatkannya.
3. Dibiarkannya lembaga pendidikan yang tidak jelas berdiri dengan alasan agar pendidikan di setiap daerah merata. Tidak peduli apakah lembaga pendidikan itu bermutu atau tidak, izin pendirian sekolah atau universitas swasta dibuat lebih mudah tanpa adanya konsistensi dalam penilaian apakah sekolah tersebut layak berdiri atau tidak. Dan kalaupun layak berdiri, tidak jelas pula bila lembaga pendidikan tersebut patut dipertahankan atau tidak. Korban dari hal ini adalah murid-murid yang terpedaya karena ketidaktahuan mereka akan mutu pelajaran yang mereka terima dari sekolah atau universitas tersebut.
4. Masih bertahannya UN sebagai satu-satunya alat penentu kelulusan absah para murid Indonesia setelah melewati proses belajar di sekolah selama tiga tahun biarpun banyak korban yang berjatuhan karenanya. Murid-murid dari Sabang sampai Merauke dijajah oleh UN yang sengaja membutakan dirinya terhadap ketimpangan mutu pendidikan di setiap daerah di Indoensia dan tingkat kecerdasan siswa-siswa Indonesia.
5. Pendidikan nasional belum mampu menghasilkan individu yang berpikir merdeka--mampu menyodorkan gagasan atau pendapatnya sendiri. Pendidikan baru sebatas mampu menghasilkan individu yang menghargai perbedaan sebatas pada penampilan namun belum menghargai perbedaan dalam berpikir ataupun berpendapat.
6. Masih bercokolnya manusia-manusia bodoh dengan gelar Profesor dan Magister sebagai penentu kebijakan pendidikan di negara ini. Daripada melihat kenyataan tentang pendidikan di Indonesia, mereka lebih suka melihat kenyataan di luar negeri dan memaksa murid Ibu Pertiwi untuk menyamai kenyataan di luar negeri mereka.
7. Masih bertahannya doktrin kekerasan di dalam sekolah ataupun lembaga pendidikan tinggi. Doktrin kekerasan seperti Ospek atau MOS masih dipertahankan di banyak sekolah dengan alasan kedisiplinan dan kebersamaan. Murid-murid dipaksa untuk mempermalukan diri mereka sendiri daripada menunjukan potensi mereka. Masih banyak pula kasus kekerasan terhadap murid yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah yang tidak tahan kritik dari para muridnya.
Meski negara ini sudah merdeka dan berdaulat selama 65 tahun, untuk dua dekade terakhir ini murid-murid Indonesia masih mengalami penjajahan dan mulai kehilangan jati diri. Kapan penjajahan ini berakhir akan ditentukan oleh perlawanan dari pihak siswa dan orang tua siswa terhadap terhadap manipulasi, kecongkakan, dan kesemena-menaan dari kaum penindas intelektual yang berada di pemerintahan.
Langganan:
Postingan (Atom)
