Tampilkan postingan dengan label 4. manajemen Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4. manajemen Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan oleh Pemerintah.Berikut ini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pengelolaan.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan.
Pasal 49-(1)Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasisi sekolah ynag ditunjkan dengan kemandirian,kemitraan,partisipasi,keterbukaan,dan akuntabilitas
(2)Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi.

Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah Daerah
Pasal 59-(1)Pemerintah daerah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:
a.wajib belajar;
b.peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah;
c.penuntasan pemberantasan buta aksara;
d.penjaminan mutu pada satuan pendidikan,baik yang diselengarakan oleh Pemerintah
e.Daerah maupun masyarakat;
f.peningkatan status guru sebagai profesi;
g.akreditasi pendidika;
h.peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat;dan
i.pemenuhan standar pelayanan minimal(SPM)bidang pendidikan.[...]


Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah
Pasal 60-Pemerintah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:
a.wajib belajar;
b.peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi;
c.penuntasan pemberantasan buta aksara;
d.penjaminan mutu pada satuan pendidikan,baik ysng diselengarakan oleh pemerintah
e.maupun masyarakat;
f.peningkatan status guru sebagai profesi;
g.peningkatan mutu dosen;
h.standarisasi pendidikan;
i.akreditasi pendidikan;
j.peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan lokal,nasional,dan global;
k.pemenuhan Standar Pelayanan Minimal(SPM)bidang pendidikan; dan Penjaminan mutu pendidikan nasional.
Standar Pengelolaan Pendidikan
Sekolah/Madrasah tidak lagi menjalankan kebijakan yang bersifat sentralistik dan pengambilan keputusan terpusat , tetapi bergeser ke arah desentralistik dan manajemen partisipatif berdasarkan pola manajemen berbasis sekolah (MBS/M)
Standar Pengelolaan Sekolah/Madrasah berdasarkan Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan
Akreditasi sekolah/madrasah merupakan pelaksanaan supervisi dan evaluasi standar pengelolaan pendidikan

Dasar
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan

Minggu, 31 Mei 2009

PEMBELAJARAN IPS TETAP BERMAKNA

PEMBELAJARAN IPS TETAP BERMAKNA

Sabtu, 22 Maret 2008 10:54:20 - oleh : admin

Oleh : Kisworo*)

Dalam diskusi formal di kampus tercinta UPY di Yogyakarta, ada keluhan dari teman saya guru SMP Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), bahwa pemerintah seolah-olah memandang sebelah mata terhadap mata pelajaran yang satu ini. Dia merujuk dari kebijakan Ujian nasional (Unas) yang tidak memasukan mata pelajaran ini ke dalam ujian pemerintah pusat selain matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam benak saya berpikir positif saja dengan pemikiran tersebut, semoga bukan karena fanatisme yang sempit terhadap bidang yang diampunya tetapi refleksi bentuk tanggung jawab moral terhadap perjalanan pendidikan kita.

Di sisi lain pandangan sebagian orang yang keliru terhadap ilmu sosial bukan merupakan berita baru. Hal ini dikarenakan secara epistimologinya dianggap tidak mampu memecahkan patologi sosial yang terjadi di masyarakat. Ketika pelajar bahkan masyarakat tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau tidak mendapatkan pelayanan sosial, mereka juga akan menjustifikasi ilmu yang satu ini, termasuk dalam kepincangan bidang politik di Indonesia dan perilaku yang kurang beradab (anti sosial) oleh sebagian masyarakat, maka selalu saja mengumpat eksistensi aktualisasi dari ilmu-ilmu sosial.

Persoalannya bukan tidak dimasukannya IPS dalam Unas, akan tetapi bagaimana ilmu ini menjawab tantangan dan perubahan masyarakat yang dinamis. Menurut Saidiharjo (2004) Pendidikan Ilmu Sosial bertujuan agar peserta didik mampu mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan sosial yang berguna bagi kemajuan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Melalui pembelajaran Ilmu sosial (geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, kewarganegaraan, antropologi), diharapkan peserta didik menjadi lebih matang secara emosional, berpikir rasional, memiliki keterampilan sosial dan intelektual sehingga mampu melahirkan keputusan-keputusan yang tepat berdasarkan situasi dan kondisi yang dialami.

Pembelajaran IPS harus ber-perspektif global. Perpektif global merupakan pandangan dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang berkaitan dengan isu global. (Idealnya tercermin dalam motto “ thingking globally and act locally”). Kumpulan para pakar ilmu sosial seluruh dunia yang berpusat di Amerika yang tergabung dalam wadah “ National Council for the Sosial Studies “ ( NCSS) pada tahun 1994 memberikan sejumlah rambu-rambu kapan pembelajaran IPS akan menjadi sangat kuat (powerful) apabila; 1) Terasa bermakna, yaitu bila siswa mampu menghubungkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipelajari di sekolah dan luar sekolah, penyampaian bahan ajar ditujukan pada pemahaman, apresiasi dan aplikasinya dalam kehidupan.2) Pendekatan Integratif, yaitu terintegrasi pengetahuan, ketrampilan, sikap, nilai, kepercayaan dan keperbuatan nyata, 3) Berbasis nilai, khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan, 4) Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan.dan 5) Bersifat aktif, memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas yang dapat ditemui di lingkungan sosial.

Teori belajar behaviour Pavlov dapat menjadi rujukan ; Misalnya sosok Heni yang berumur 7 tahun untuk pertama kali masuk sekolah, disambut oleh guru IPS-nya dengan pujian. Belum lagi dua minggu berlalu Heni minta diantarkan ke sekolah lebih pagi, sambil berkata pada Ibunya, bahwa ia akan menjadi guru IPS bila sudah besar. Pavlov menyatakan; bila suatu stimulus tak terkondisi, unconditioned stimulus (US) menimbulkan reaksi emosional unconditioned respon (UR), seperti takut, marah, gembira, senang dan bahagia, maka memasang stimulus terkondisi, atau stimulus netral sebelumnya, dengan stimulus tak-terkondisi akan menghasilkan timbulnya suatu respon terkondisi (seperti takut dan gembira).

Guru dan Heni melukiskan terjadinya belajar respondennya Pavlov. Pujian guru dapat ditafsirkan sebagai stimulus tak-terkondisi. Tindakan guru ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan pada diri Heni, yang dapat ditafsirkan sebagai respon tak terkondisi. Guru dan sekolah yang sebelumnya itu netral, yaitu stimulus terkondisi, terasosiasi dan segera menimbulkan perasaan yang menyenangkan.

Perasaan malas siswa terhadap pelajaran IPS yang “over load” (tanpa seleksi dan adaptasi) sering diidentikan dengan pelajaran hafalan, mungkin didasarkan pada responden terkondisi, yaitu melihat simbol hafalan menimbulkan emosi negatif diri siswa, dan inilah yang kerap kali menghalangi siswa untuk belajar efektif. Sesungguhnya , lingkungan dapat menjadi berpasangan dengan suatu stimulus yang menimbulkan respon-respon emosional positif. Kata-kata guru IPS yang ramah, metode pengajaran yang bagus, pendekatan yang bersifat aktif dan menantang serta terasa bermakna dapat mencegah mereka dari belajar respons-respons yang tidak diinginkan.

Ketika pembelajaran IPS dikelola secara bermakna, menantang dan berbasis nilai (value), diharapkan pandangan miring siswa dan masyarakat tentang IPS dapat direduksi. Penting sekali memahami pengetahuan sosial sehingga kita tahu realitas sosial dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, itulah esensi kontribusi kita terhadap dunia pendidikan. Maka jangan berkecil hati manakala IPS tidak masuk dalam mata ujian Nasional , masih sangat bermakna !

*) Kisworo

Mahasiswa Pascasarjana P-IPS

Belajar dan Pembelajaran Bermakna

Belajar dan Pembelajaran Bermakna

April 6, 2008 by Admin

Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

Pengertian Pembelajaran Tematik

Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:

1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,

2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;

3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;

4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;

5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;

6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;

7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Belajar Secara Individual, Sesuai Pula kemampuan

Belajar Secara Individual, Sesuai Pula kemampuan

Sabtu, 2 Mei 2009 | 17:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sertifikasi ISO 9001 - 2000 dalam hal perencanaan, pengembangan, implementasi, serta quality control training dan pendidikan Bahasa Inggris merupakan sebuah bukti yang mungkin menjadi pertimbangan untuk melongok lebih jauh keberadaan lembaga bahasa ini. Wall Street Institute, mau coba?

Blended learning method. Wall Street Institute begitu mengagung-agungkan metode belajar tersebut, karena mereka berpendapat, metode itu memungkinkan setiap orang dengan latar belakang kemampuan yang berbeda dapat belajar secara individual dan belajar sesuai kemampuannya sendiri, serta mencapai target yang diinginkan.

Saat ini, lebih dari 3.700 siswa bergabung di Wall Street Institute dan tengah merasakan blended learning method tersebut. Namun menariknya, jumlah siswa per kelas sangat sedikit.

Seluruh siswa di Wall Street menikmati kelas yang hanya berjumlah empat siswa per encounter class dan 8 siswa untuk complementary class. Alhasil, hubungan antara guru dan setiap siswa sangat terjamin. Ya, karena hanya siswa dengan tingkat yang sama yang boleh bergabung di kelas yang sama pula.

Di sisi lain, Wall Street juga menyediakan native teacher dan personal tutor. Tugas keduanya adalah mengikuti perkembangan setiap siswa dengan memberikan banyak arahan dan dorongan atas kemampuan belajar di tempat ini.

Pusat belajar pun terkomputerisasi. Di sinilah perkembangan tiap siswa di setiap saat akan tercatat rapi dan menjadi sebuah laporan perkembangan siswa yang lengkap dan dilaporkan kepada siswa secara terperinci.

Aktivitas klub sosial pun menjadi acara yang menyenangkan sebagai cara praktek Bahasa Inggris bergaya Wall Street. Acara dikemas oleh Wall Street dengan suasana yang santai, akrab dan membentuk perbincangan-perbincangan dalam yang luas. Dengan aktivitas berbeda-beda dilakukan setiap hari, menggunakan perangkat tambahan seperti DVD, TV kabel, serta kegiatan luar ruang, kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan untuk mempraktekkan kemampuan bahasa seorang siswa.

Jam belajar pun fleksibel. Lembaga bahasa yang terletak di kawasan Ratu Plaza, Jakarta Selatan, ini memang memudahkan siswa untuk belajar kapan saja mereka inginkan. Untuk itulah, Pusat Belajar dibuka setiap hari, dan siswa cukup memesan encounter class atau complementary class sesuai dengan waktu luang yang mereka punya. Bahkan, siswa juga bisa menikmati akses tak terbatas di speaking center tanpa batas waktu atau frekuensi kehadiran.

Umum dan Bisnis
Sebelum masuk ke Wall Street Institute, ada satu tahap yang harus dilakukan yaitu Tes Bahasa Inggris. Tanpa dipungut biaya, dari hasil tes tersebut tingkatan bahasa siswa akan disesuaikan dengan kemampuan berbahasanya. Siswa pun bisa lantas merencanakan kursus yang sudah dipilihnya, baik untuk Bahasa Inggris Umum atau Inggris Bisnis.

Bahasa Inggris Umum dikategorikan ke dalam empat bagian. Hal tersebut ditujukan oleh Wall Street untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berbahasanya di kemudian hari, yaitu:

1. Survival atau dapat berbahasa Inggris pada tingkat dasar.

2. Waystage atau belajar mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai istilah Bahasa Inggris.

3. Upper Waystage atau bercakap-cakap dengan kelancaran sedang sampai tingkat tinggi.

4. Threshold atau berbicara dengan tingkat kelancaran dan pengertian yang tinggi.

Lain halnya dengan Bahasa Inggris Umum Lanjutan. Kelas ini akan membantu para siswa menuju tingkat kelancaran tertinggi, yaitu Milestone atau lancar berkomunikasi dalam berbagai situasi sosial dan Mastery atau sangat lancar berkomunikasi.

Sementara itu, untuk Bahasa Inggris Bisnis (English for Business) Wall Street Institute sudah merancang beberapa program khusus untuk membantu Anda yaitu:

- Meningkatkan pemahaman siswa akan hal-hal terkait situasi bisnis yang penting

- Meningkatkan kosakata siswa, baik yang bersifat umum ataupun teknis bisnis

- Membantu siswa mengenali dan menggunakan gaya bahasa sesuai konteksnya

- Meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa secara total dan keseluruhan

Sebagai tambahan terhadap penekanan pada Bahasa Inggris bisnis umum, program English for Business di tempat ini juga telah menyiapkan rancangan khusus yang sesuai dengan sebuah area pekerjaan tertentu, yaitu General Manager, Executive Secretary, Personnel Manager, Finance Manager, Marketing Manager, Sales Manager, serta MIS Manager. Kelas tambahan ini akan dibutuhkan oleh siswa yang ingin lebih spesifik mempertajam kemampuannya kelak di tempat bekerja atau berbisnis pilihannya.

"Small Stars", Konsep Bahasa Inggris buat Si Upik!

"Small Stars", Konsep Bahasa Inggris buat Si Upik!

shutterstock"Learning to Learn" merupakan konsep yang akan mengedepankan proses belajar dengan aktif untuk membuat anak didik menikmati dan menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari

Jumat, 15 Mei 2009 | 10:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga pendidikan bahasa Inggris swasta English First (EF) baru saja (13/5) meluncurkan program terbarunya, Small Stars. Sebuah program pembelajaran bahasa Inggris yang dikhususkan untuk anak usia 3 sampai 6 tahun.

Menurut siaran persnya, pihak EF mengatakan bahwa hadirnya program baru itu ditunjang dengan konsep "Learning to Learn". Sebuah konsep yang akan mengedepankan proses belajar dengan aktif untuk membuat anak didik dapat menikmati dan menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, melalui progam ini pembelajaran bahasa Inggris diharapkan bisa dimulai sejak usia dini dengan cara yang tepat dan menyenangkan. Hal tersebut akan menjadikan anak bisa seoptimal mungkin menguasai bahasa Inggris.

Dalam pengajarannya, program Small Stars ditunjang dengan buku, kartu peraga, boneka tangan, materi online, serta tenaga-tenaga pengajar berkompeten, baik itu penutur asli maupun lokal. Para orangtua siswa pun bisa mengakses langsung tingkat kemajuan putra-putrinya melalui situs EF. Dengan investasi lebih dari 6 juta dollar AS, saat ini program Small Stars hanya berada di 23 sekolah EF di Jakarta, Surabaya, dan Batam.

Tumbuhkan Jiwa Seni Anak dengan Buku Bergambar

Tumbuhkan Jiwa Seni Anak dengan Buku Bergambar

Jumat, 15 Mei 2009 | 16:16 WIB
KOMPAS.com - Buku bergambar diyakini dapat meningkatkan perasaan anak-anak pada seni sejak usia dini.

Dalam kaitan itu, kini hingga 30 Juni mendatang diselenggarakan ceramah dan pameran yang menampilkan para pemenang dari Bologna International Children’s Book Fair di Kota Kecil Think, pusat pendidikan ilmiah di Shangai, dengan sasaran anak-anak daru usia 3 sampai 11 tahun.

Dengan maksud menghadirkan kisah peri kreatif kepada lebih banyak anak dan orang-tua, acara tersebut berusaha membuktikan bahwa setiap orang dapat menjadi terkenal seperti Hans Christian Andersen, pengarang Denmark yang terkenal dengan kebanyakan karyanya bercerita mengenai peri, selama mereka berusaha menelusuri kehidupan dengan hati mereka.

Sebagian besar pembicara dalam acara itu datang dari Taiwan. Bermacam kisah mengenai masa kecil mereka dan pengalaman melukis akan dibagi, sedangkan untuk menghadiri acara tersebut tak dipungut biaya.

Pang Yawen, seorang artis yang buku bergambar pertamanya dipilih oleh Bologna International Children’s Book Fair 2001, melakukan kunjungan pertamanya ke Shanghai selama libura Hari Buruh 1 Mei dan memberi ceramah dengan tema "Misteri Di Balik Buku Bergambar".

"Buku bergambar memiliki daya tarik yang tak tergantikan. Semua buku itu memiliki kata-kata sederhana yang memainkan peran penting dalam perkembangan bahasa, daya khayal, keindahan dan kreativitas anak," kata Pang.

"Dunia itu murni seperti kita melihat kisah peri. Kita dapat menjadi biasa dan membumi, tapi ada daya khayal pasti di dalam otak kita. Daya khayal adalah landasan hidup anak. Membaca buku bergambar dapat memberi mereka sayap agar bisa terbang," katanya.

Pang lulus dari Academy of Art University di St. Francisco, dengan bidang studi ilustrasi. Buku bergambar milik aktris tersebut "A Fox Lays On Eggs" dan "Doggie Scar Want To Be A Sheep" telah terjual lebih dari 10.000 eksemplar di seluruh dunia.

Karya Pang penuh kejenakaan dan humor, sehingga memberikan setiap gambar di setiap halaman penciptaan yang unik, dan gayanya yang hangat serta melukiskan hewan warna-warni telah diterima dengan baik oleh banyak pembaca.

"Keikutsertaan orang-tua sangat penting. Membacakan cerita kepada anak-anak bukan hanya memelihara hubungan erat dengan mereka, tapi juga memperluas ketertarikan mereka pada membaca," kata Pang, sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Xinhua, Kamis (14/5).

"Kadangkala dengan dukungan, dampaknya akan lebih nyata. Membaca buku bergambar meningkatkan pemahaman anak mengenai gambar dan kehidupan. Mereka akan merasa lega ketika mereka mengetahui apa yang ada di balik rancangan sederhana," katanya.

Buat Pang, kunjungan ke Shanghai adalah pengalaman baru yang mendebarkan yang membawa inspirasi. Pang mengatakan ia berharap makin banyak anak akan "terbang dengan bebas di langit penuh peri".

ABD

Sejak Dini Anak Perlu Belajar Bertanggung Jawab

Sejak Dini Anak Perlu Belajar Bertanggung Jawab

KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

Minggu, 16 November 2008 | 13:15 WIB
JAKARTA, MINGGU - Menjadi manusia utuh adalah cita-cita setiap manusia. Kita tak ingin agar hidup kita tidak seimbang atau berat sebelah. Sejak masih dini, usia sekolah, anak-anak harus bisa belajar menyeimbangkan aspek-aspek dalam hidupnya.

Di masa ini, anak-anak perlu diajari bagaimana menjalani hidup dalam masyarakat, dalam sebuah komunitas. Sekolah adalah tempat yang paling mewakili, karena sebagian besar aktivitas anak-anak, dari Senin sampai Minggu ada di tempat ini.

"Karena itu, dengan acara Gonzaga Science and Art (GSA) ini, anak-anak dapat belajar bagaimana mengelola sesuatu. Anak-anak perlu belajar bahwa menggunaka sesuatu barang itu ada prosedurnya, tidak asal ambil saja, misalnya begitu," ujar Isharmanto, penanggung jawab Gonzaga Science and Art, di SMU Gonzaga, Jakarta, Minggu (14/11).

Dengan belajar mengelola sebuah acara, harapannya, jelas Isharmanto, di kemudian hari anak-anak dapat menerapkannya dalam kegiatan mereka di keluarga dan masyarakat tempat mereka tinggal.

Tentu saja, pengajaran ini juga dalam rangka mendidik mereka untuk bisa bertanggung jawab terhadap segala hal yang dibebankannya.

"Karena itu, acara GSA ini tidak menabrak kegiatan belajar mengajar. Acara sekolah tetap berlangsung. Sementara GSA dijalankan setelah anak-anak menyelesaikan urusan sekolah. Dari jam dua sampai lima sore." jelas Isharmanto.

Gonzaga Science and Art merupakan festival seni dan pengetahuan yang berisi komptesisi berbagai kemampuan seni dan pengetahuan seperti paduan suara, puisi, band, game, desain poster, seni mural di SMU Gonzaga, Jakarta Selatan.

Berlangsung dari hari Minggu (14/11) hingga Sabtu (22/11), acara yaang sudah tiga kali diadakan ini diikuti sekitar 34 sekolah menengah umum di Jakarta.

ABD

Doko Ciptakan Metode Pembelajaran IPS Menyenangkan

Doko Ciptakan Metode Pembelajaran IPS Menyenangkan

Senin, 7 Juli 2008 | 17:59 WIB

JAKARTA, SENIN - Metode pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dikenal membosankan. Belum lagi, satu-satunya yang akhirnya diandalkan adalah menghafal mati konsep dan teorinya. Akibatnya, para siswa kehilangan kesempatan untuk memiliki kemampuan kritis dalam menganalisa fenomena-fenomena sosial.

Doko Harwanto, guru mata pelajaran Ekonomi dari SMPN 2 Wanadadi menggagas teknik pemodelan kinestetik dalam penelitian yang dipresentasikan pada hari kedua Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) di Depok, Senin (7/7). Lomba ini diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai tanggal 6-8 Juli 2008.

Teknik kinestetik dapat menekankan pada tindakan fisik dan emosional siswa untuk melakukan aktivitas belajar. Pada intinya, teknik ini berpusat pada mendukung siswa belajar dengan perasaan senang dan tanpa merasa tertekan sehingga potensi otak untuk berpikir secara logis dan rasional lebih besar.

"Kalau belajar IPS, apalagi ekonomi, anak-anak seringnya mengantuk dan seringnya menghapal saja, dengan metode gerak atau menyusun balok, tentu saja dapat membantu mereka untuk belajar dengan baik," ujar Doko seusai mempresentasikan makalah penelitiannya dalam babak final Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Depok, Senin (7/7).

Aktivitas belajar yang dikembangkan dalam mata pelajaran ini adalah kata dan kotak berkait, rekonstruksi peta konsep, puzzle jigsaw dan rancang bangun konsep. Puzzle jigsaw mengajak siswa untuk merangkai kembali potongan-potongan kertas menjadi kesatuan yang utuh. Puzzle ini berisi tulisan atau gambar tentang konsep-konsep sesuai dengan materi yang dipelajari, sedangkan metode kotak bangun konsep mengajak siswa untuk menyusun kotak-kotak konsep atau subkonsep secara bertingkat sehingga membentuk konstruksi tertentu. (LIN)

LIN

Senin, 20 April 2009

Learning Society; Upaya Memberdayakan Pendidikan Masyarakat

Learning Society; Upaya Memberdayakan Pendidikan Masyarakat

Ditulis Oleh Arya Hermawan

28-10-2008,
Sebagaimana diungkapkan bahwa ‘as is the state, so is the shool’ (sebagaimana negara, seperti itulah sekolah), atau ‘what you want in the state, you put into school’ (apa yang anda inginkan dalam negara, harus anda masukkan dalam sekolah).

Keprihatikan bangsa ini yang dilanda krisis multidimensi dalam berbagai aspek kehidupan menuntut peran pendidikan Islam sebagai benteng sekaligus mencetak generasi penerus untuk memperbaiki kondisi yang ada. Menjadi sangat wajar jika beban dari krisis ini seluruhnya dibebankan kepada pendidikan. Baiknya suatu bangsa bisa dilihat dari baiknya pendidikannya, majunya suatu bangsa juga dipengaruhi dari pendidikannya.

Hal ini menunjukan, bahwa keberhasilan dari proses pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh pihak sekolah saja, tetapi peran keluarga dan masyarakat juga berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Berangkat dari hal inilah maka perlu diperhatikan lingkungan di luar sekolah, baik secara formal maupun non formal, bahkan informasi sekaligus. Harus ada upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, yang mampu mengembangkan potensi masyarakat guna mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati bersama.

Pengembangan pendidikan di Indonesia, hendaknya dilihat sebagai suatu proses kelangsungan peradaban bangsa, maka faktor-faktor psiko sosial budaya perlu diikutsertakan dalam merancang pendidikan, dan perlu diciptakan situasi yang kondusif dalam pembelajaran. Tranformasi sosial psikologis dan budaya adalah suatu keniscayaan yang dihadapai bangsa ini, tetapi hal itu bisa dikendalaikan, khususnya dalam sektor pendidikan. Transformasi ini memunculkan tatanan baru dalam masyarakat, untuk itu perlu pendekatan sejenis sosial and culture engenering yang mampu mengendalaikan perubahan dan pergeseran ke arah yang diinginkan.

Dalam upaya menciptakan situasi kondusif bagi keberhasilan belajar hanya dapat terjadi bila seluruh masyarakat kita menuju masyarakat learning society. Artinya, proses mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 hendaknya diselenggarakan melalui tiga jalur institusi pendidikan, yaitu;

(1) lingkungan atau jalur sekolah dan jalur luar sekolah,

(2) dilaksanakan oleh berbagi pihak termasuk kerjasama masyarakat dengan pemerintah. (3) ialah kegiatan yang tak terputus, atau pendidikan seumur hidup (long life education).

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mewujudkan masyarakat belajar adalah dengan memberdayakan keluarga agar menjadi keluarga yang gemar belajar. Dalam memberdayakan pendidikan keluarga, relevan untuk ditampilakan beberapa fungsi keluarga, yaitu:

(a) fungsi keagamaan,

(b) fungsi cinta kasih,

(c) fungsi reproduksi,

(d) fungsi ekonomi,

(e) fungsi pembudayaan,

(f) fungsi perlindungan,

(g) fungsi pendidikan dan sosial, dan

(h) fungsi pelestarian lingkungan.

Di samping memberdayakan pendidikan keluarga, upaya mewujudkan learning society adalah dengan menciptakan partisipasi masyarakat, mewujudkan pendidikan yang berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat. Dengan pendekatan demikian diharapkan akan mempertebal rasa self of belonging yang akhirnya tumbuhnya rasa tanggung jawab atas kondisi yang ada. Sehingga dengan learning society diharapkan akan terwujud masyarakat madani (civil society), hal ini sekaligus sebagai alternatif dalam mengatasi masalah yang melanda negara ini.
Suara Merdeka

Didik Anak Sesuai Potensi

Didik Anak Sesuai Potensi
Anda harus rajin menemaninya nonton film agar obrolan nyambung.
Selasa, 17 Maret 2009 | 03:13 WIB

KOMPAS.com - Rian (10), siswa kelas IV SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya, duduk tenang di kursinya dan menyimak guru kelas menerangkan pelajaran. Persis di depannya, seorang guru lain mendampingi dan sewaktu-waktu siap membantu Rian yang tampak gelisah atau kesulitan mencerna pelajaran.

Sekilas memang tidak tampak perbedaan fisik antara Rian yang menderita gangguan autis dan anak-anak lain. Dengan pendampingan secara khusus di kelas, Rian akhirnya tidak kesulitan untuk beradaptasi di kelas.

Keberadaan Rian untuk bisa bergabung di kelas reguler itu setelah melalui tahapan kelas khusus dan kelas preklasikal. Tujuannya untuk menyiapkan bocah lelaki itu mampu bergabung dengan anak-anak lainnya.

SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya awalnya adalah sekolah reguler yang diperuntukkan bagi anak-anak normal. Namun, kebutuhan masyarakat sekitar yang ingin supaya anak berkebutuhan khsusus tak diasingkan di sekolah luar biasa membuat Kepala Sekolah SDN Klampis Ngasem I-246, Sukarlik, sejak 1989 coba membaurkan anak- anak normal dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Dengan keyakinan bahwa setiap anak punya potensi jika dilayani sesuai kebutuhan dan kemampuannya, guru-guru di sekolah ini menerima anak berkebutuhan khusus, mulai dari yang menderita down syndrome, lambat belajar, autis, hiperaktif, tunarungu, tunanetra, dan cacat fisik. Mereka belajar dalam satu lingkungan dengan anak-anak reguler lainnya.

Anak-anak berkebutuhan khusus yang dilecehkan karena dianggap tidak punya harapan untuk bisa ”berprestasi” nyatanya mampu menunjukkan potensi dirinya.

”Kuncinya, anak-anak ini diidentifikasi kebutuhannya lalu ditangani sesuai kebutuhannya. Ketika mereka berada dalam lingkungan dengan anak-anak reguler, itu bisa memacu mereka untuk mau bersosialisasi. Anak-anak reguler juga belajar untuk memahami, menerima, dan membantu teman-teman mereka yang punya beragam kekhususan itu,” kata Dadang Bagoes Prihantono, koordinator sekolah inklusi di SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya.

Tetap konsisten

Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang baik buat anak-anak berkebutuhan khusus, nyatanya sekolah ini selama 20 tahun tetap bisa konsisten melayani setiap anak secara personal. Dengan pendidikan yang berfokus pada kondisi dan kebutuhan anak, perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dalam bersosialisasi dan belajar semakin baik sehingga mereka tidak kesulitan saat belajar bersama di kelas reguler.

Dadang menjelaskan, layanan bertahap yang diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus itu lahir dari pengalaman para guru saat melayani dan mengevaluasi setiap anak. Sekolah ini menyediakan 44 guru khusus yang siap melayani 133 anak berkebutuhan khusus.

Sukarlik mengatakan, para guru ini umumnya guru honorer dari pendidikan luar biasa. Mereka dimotivasi untuk punya hati yang tulus melayani anak didik di tengah keterbatasan gaji yang mereka peroleh.

Di sekolah ini, anak-anak berkebutuhan khusus yang kondisinya masih berat untuk bersosialisasi dengan anak-anak reguler lainnya dimasukkan ke kelas khusus. Di sini satu guru melayani satu siswa atau satu guru dua siswa.

Jika dari hasil evaluasi menunjukkan anak sudah bisa bergabung dengan siswa lain, dia bisa dimasukkan ke kelas praklasikal. Di sini anak-anak berkebutuhan khusus dilayani dalam kelompok kecil sekitar 15 anak dengan 2-3 guru.

Lima bidang pelajaran

Anak-anak itu sudah belajar lima bidang pelajaran, yakni Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS. Untuk pelajaran olahraga dan keterampilan, anak-anak itu digabungkan dengan kelas reguler.

Layanan lain yang diberikan adalah kelas remedi. Anak-anak yang memiliki gangguan belajar dibantu secara khusus oleh guru untuk mengatasi kesulitan belajarnya sehingga tidak terhambat lagi saat belajar di kelas.

Selain itu, ada pendampingan. Anak berkebutuhan khusus yang sudah bisa bergabung di kelas reguler didampingi guru supaya dia tidak kesulitan beradaptasi. Yang terakhir, inklusi penuh di mana anak berkebutuhan khusus tadi siap dilepas di kelas tanpa pendampingan. Umumnya ini dijalani anak- anak yang menderita autis dan lambat belajar.

Menurut Sukarlik, sekolah inklusi itu bukan sekadar menghadirkan anak berkebutuhan khusus di sekolah. Yang penting justru bagaimana anak-anak ini mendapat layanan khusus sesuai kebutuhannya.

Anak berbakat

Layanan anak berkebutuhan khusus juga dibutuhkan anak- anak cerdas istimewa yang memiliki IQ 130 ke atas. Anak-anak ini justru sering diidentifikasi sebagai bermasalah karena ketidaktahuan gurunya.

Kepala SD Adik Irma Jakarta, Loly Widiaty, mengatakan, potensi kecerdasan istimewa anak dilihat dari pendekatan Renzulli terdiri atas IQ di atas rata-rata, kreativitas, dan task commitment. ”Anak-anak ini sering menawarkan ide-ide unik dan tidak biasa sehingga sering dianggap aneh,” kata Loly.

Untuk melayani anak-anak cerdas ini tidak mesti dengan guru yang cerdas. Yang dibutuhkan justru guru kreatif yang mampu merangsang anak untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya secara bebas.

Di Sekolah Adik Irma, anak- anak cerdas istimewa belajar di kelas khusus. ”Namun untuk pelajaran lain, seperti seni dan olah raga, mereka digabung dengan anak-anak reguler lainnya,” kata Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Amita M Haroen.

Dari penelitian yang dilakukan, diperkirakan terdapat sekitar 2,2 persen anak usia sekolah memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2006, ada 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya, terdapat sekitar 1.059.796 anak cerdas/berbakat istimewa di Indonesia.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan, harus ada kelenturan dalam kurikulum pendidikan di negara ini untuk bisa melayani kepentingan terbaik bagi anak. Sekolah jangan hanya mengejar kemampuan akademik dengan mengorbankan pengembangan karakter dan kreativitas setiap anak.

Ester Lince Napitupulu

Sumber : Kompas Cetak

Minggu, 19 April 2009

Belajar di Rumah, Kebun, Museum? Boleh, Kok!

Belajar di Rumah, Kebun, Museum? Boleh, Kok!
Yayah dan dua putrinya
KOmpas, Rabu, 25 Maret 2009 | 12:12 WIB
Laporan wartawan NOVA Henry Ismono

Homeschooling (HS) atau sekolah rumah merupakan alternatif pendidikan yang semakin diminati. Apa dan bagaimana persisnya?

Suatu hari, seorang ibu menghubungi Yayah Komariah, SPd (40), pendiri sekaligus Ketua Komunitas Sekolah Rumah Berkemas (Berbasis Keluarga dan Masyarakat). Si ibu menceritakan problem hidupnya, termasuk derita anaknya yang duduk di bangku SMA. "Anak saya tidak berani sekolah," katanya.

Rupanya, gara-gara masalah bisnis ayahnya, si anak jadi takut sekolah. "Bapaknya diancam lawan bisnisnya. Anak-istrinya juga diteror. Di sekolah, si anak tadi ditongkrongi. Jelas, si anak ketakutan," tutur Yayah mengisahkan kembali penuturan ibu tadi.

Belakangan, si anak berhenti sekolah. "Padahal sudah akan menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional). Bingunglah ibunya. Apalagi, nilainya selalu bagus. Akhirnya ia memutuskan ikut HS dan berhasil menamatkan SMA lewat ujian paket C."

Nyaman Belajar
Cerita yang diutarakan istri Margono ini, hanyalah sebagian kecil dari kisah para siswa yang bergabung di komunitas Berkemas. "Sekarang sudah ada 300 lebih siswa, mulai dari TK sampai SMA. Masalah yang mereka hadapi macam-macam. Ada yang semasa di sekolah formal jadi korban kekerasan teman-temannya, ada pula yang trauma dengan sikap gurunya."

Belakangan ini, lanjut Yayah, banyak juga anak berkebutuhan khusus yang jadi muridnya. Bahkan, "Ada siswa kelas 4 SD yang sangat pintar. Lebih pintar dari gurunya. Dia kecewa dan mogok sekolah karena jawabannya disalahkan gurunya, padahal jawaban dia betul. Anak itu tahu karena dia pernah membaca buku milik ibunya yang seorang dosen."

Begitulah, bila sekolah formal tidak lagi bisa menampung persoalan anak-anak, HS bisa dijadikan alternatif pilihan. "Lewat HS, si anak lebih merasa nyaman belajar."

Itu pula, alasan Yayah mendirikan Berkemas. "Saya prihatin pada anak-anak yang punya aneka masalah seperti tadi. Sebelumnya, sudah 10 tahun saya jadi guru SD dengan waktu mengajar dari pagi sampai sore. Selama mengajar, saya melihat, banyak sekolah yang hanya bagus aksesorinya. Maksudnya, sarana dan prasarana memang ditingkatkan, namun cara mengajar dan mendidiknya tidak meningkat. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat pendidikan terbaik. Padahal, buat saya, siapa pun mestinya bisa mendapatkan yang terbaik," jelas Yayah.

Tahun 2004, Yayah mengundurkan diri dan mewujudkan impiannya memberi pendidikan pada siapa saja, tanpa kecuali. "Buat saya, tanpa gedung pun, kita bisa memulai pendidikan. Kelas tidak harus di dalam ruangan. Di mana saja, bisa, kok, belajar."

Berbekal pengalamannya ia meyakini, dari tahun ke tahun materi pelajaran sebenarnya ada benang merahnya. Hanya saja, tiap tahun buku pelajaran sekolah ganti terus. Itu sebabnya, "Untuk materi pelajaran, saya menggunakan buku pelajaran bekas. Saya pun memulai pendidikan di luar sekolah formal. Waktu itu, saya belum dengar istilah HS.

Siswa SMK Diajari Membuat Aksesori Tari

21/11/2008 14:01 - Pendidikan
Siswa SMK Diajari Membuat Aksesori Tari

Liputan6.com, Bandung: Tarian ternyata bisa menciptakan peluang bisnis baru. Seperti yang dijalankan siswa Sekolah Menengah Karawitan (SMK) 10 Bandung, Jawa Barat. Selain diajarkan menari, mereka juga diberi ilmu tentang bagaimana cara membuat aksesori tari yang baik di Sanggar Desa Seni Manglayang, Bandung. Pengetahuan yang diberikan, mulai dari proses pembentukan hingga pengecatan.

Penilaian hasil karya siswa tidak hanya dilihat dari aspek kecepatan membuatnya, tetapi juga soal kualitasnya. Karena pembuatan aksesori sangat membutuhkan ketelitian ekstra terutama pada lekuk motif yang dibuat.

Hasil karya siswa yang umumnya berbahan baku kulit sapi ini tidak hanya dipakai untuk sendiri. Namun banyak yang dijual dengan harga hingga ratusan ribu rupiah. Tidak jarang pesanan juga datang dari kedutaan-kedutaan besar Indonesia untuk pertunjukkan di luar negeri.(UPI/Bambang Triyono)

Sekolah Plus, Gantikan Peran Orangtua

09/01/2009 12:56 - Pendidikan
Sekolah Plus, Gantikan Peran Orangtua

Liputan6.com, Bandung: Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya bertumbuh-kembang. Setiap detik para orangtua ingin menyaksikan tingkah polah anak-anaknya. Tapi tak jarang kaum ibu harus membagi waktu antara mendidik anak dengan bekerja.

Namun, masalah itu sekarang bisa terpecahkan. Sekolah plus yang diadakah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Santo Yusuf II Bandung, Jawa Barat, mungkin bisa jadi solusi bagi ibu yang bekerja. Sebagian peran orangtua digantikan para guru di sekolah ini.

Jam pulang sekolah sengaja menjadi lebih sore. Biasanya jam sekolah TK hanya sampai jam 10.00 WIB atau 11.00 WIB. Tapi di TK Santo Yusuf jam pulang menjadi pukul 15.00 WIB. Makan siang juga disediakan di sekolah. Jika di rumah anak sulit makan, di sini mereka belajar mandiri, makan sendiri. Setelah makan berbagai kegiatan ekstra kurikuler pun tersedia.

Tak hanya di Bandung, sekolah plus semacam ini sudah ada di beberapa kota. Namun biaya sekolah seperti itu lebih tinggi. Uang pangkal mencapai delapan juta rupiah dan uang sekolah sebesar Rp 850 ribu.(IAN/Patria-Taufik Hidayat)

Senin, 16 Maret 2009

Sudah saatnya kembangkan E-Learning di Indonesia

Sudah Saatnya Kembangkan E-learning di Indonesia
Sabtu, 5 Juli 2008 | 07:47 WIB
Laporan Wartawan Kompas, R Adhi Kusumaputra

JAKARTA, SABTU - Presiden Direktur PT Aplikanusa Lintasarta, Noor SDK Devi (47) berpendapat, sudah saatnya di Indonesia dikembangkan program belajar e-learning. Kerja sama yang dijalin perusahaan penyedia jaringan ini dengan PT Medialand International dan PT Danawa Indonesia, kata Noor, akan memanfaatkan program jarak jauh dengan proses belajar yang interaktif.

"Dengan e-learning, semua bisa belajar di mana saja dan kapan saja, tidak tergantung waktunya. Bisa saat sedang travelling. Bisa juga saat bekerja sehingga tak perlu meninggalkan kantor. Program e-learning lebih luwes. Bahkan siswa atau mahasiswa bisa mengambil kredit lebih banyak," kata Noor SDK Devi, yang mengaku awalnya bercita-cita menjadi guru Taman Kanak-Kanak.

Menurut Noor, Gramedia dapat menjadi motor utama program e-learning karena sumber daya yang luar biasa sudah tersedia. Dengan e-learning, program mencerdask an bangsa dapat dikembangkan. Sebab tidak hanya untuk SD, SMP, SMA tetapi juga untuk mendapatkan gelar S1, S2 bahkan S3 sekalipun.

"Modul e-learning tergantung pada pengelola dan disesuaikan dengan kurikulum. Misalnya Gramedia kerja sama dengan MIT, atau dengan ITB, UI," kata perempuan yang bernama lengkap Noor Suseno Drupadi Krishna Devi itu. Noor menambahkan, program ini semacam virtual university dan jumlah mahasiswanya bisa banyak.

PT Lintas Media Danawa, anak perusahaan baru dari tiga perusahaan besar itu, juga akan mengembangkan bisnis game online . Bentuknya beragam dan sangat canggih. Game online ini bisa dilakukan antarnegara.

KSP

Pendidikan Menyenangkan Optimalkan Kecerdasan Anak

Pendidikan Menyenangkan Optimalkan Kecerdasan Anak
/Kamis, 27 November 2008 | 23:36 WIB

BANDA ACEH, KAMIS - Pakar pendidikan anak, Seto Mulyadi menyatakan, untuk mengoptimalkan kecerdasan anak maka harus melalui cara mendidik yang menyenangkan anak.





"Dunia anak adalah bermain, yang penuh spontanitas dan menyenangkan. Anak akan melakukan dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan," katanya di Banda Aceh, Kamis.

Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Kak Seto dalam seminar bertema "Tingkatkan kualitas didik anak Aceh melalui proses belajar yang menyenangkan" yang diselenggarakan Biro Psikologi Psikodinamika Banda Aceh.

Menurut Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak itu, belajar bagi anak dapat dilakukan dengan berbagai cara baik melalui nyanyian, dongeng maupun bermain.

Dia menyebutkan setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda dan orangtua harus menghargai prestasinya karena pada dasarnya semua anak cerdas baik cerdas matematika, menggambar, menyanyi maupun bentuk kecerdasan lainnya.

"Selama ini orangtua yang membuat diskriminasi terhadap anak. Anak dianggap tidak cerdas jika tidak pintar matematika padahal kecerdasan spektrumnya sangat luas," katanya.

Kak Seto juga mengungkapkan semua anak pada dasarnya senang belajar hanya bagaimana cara mengoptimalkannya karena jika suasana dibuat menyenangkan anak akan senang belajar.

Kekerasan terhadap anak, kurikulum sekolah yang padat dan suasana yang tidak menyenangkan lainnya menyebabkan anak tidak belajar efektif dan takut sekolah.

Kekerasan terhadap anak juga kerap terjadi dalam keluarga berupa menjewer telinga, membentak, mencubit. Selain itu anak juga mendapat kekerasan dari elektronik.

Menurut Kak Seto dari penelitian dominasi tayangan televisi, iklan menunjukkan angka tertinggi yaitu 39,74 persen sementara tayangan pendidikan hanya 0,07 persen.

Anak-anak yang memiliki dasar suka meniru sebenarnya sangat kreatif dan orangtua serta guru perlu memahami kreativitas yang ada pada diri anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula.

ABD

Minggu, 15 Maret 2009

Pendidikan Indonesia Tidak Ajari Siswa Wirausaha

Pendidikan Indonesia Tak Ajari Siswa Wirausaha
Pelajar SMP Terbuka memperagakan pembuatan terarium pada lomba inovasi dan keterampilan SMP Terbuka 2009 bersama Yayasan Sekolah Rakyat di tempat kegiatan belajar mandiri Mutiara Bangsa, Desa Pagelaran, Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/1). Kegiatan diikuti sekitar 200 pelajar dari berbagai sekolah di Jabar dan Banten untuk meningkatkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan.

Rabu, 25 Februari 2009 | 20:44 WIB

SLEMAN, RABU - Proses pendidikan di negeri ini tidak mendidik orang mempunyai cukup bekal berwirausaha. Itu karena siswa dan mahasiswa jarang sekali disentuhkan dengan beban risiko, ambiguitas, dan ketidakpastian, yang notabene adalah kenyataan hidup.

Hal itu disampaikan pengajar Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang juga mantan rektor UAJY Slamet S Sarwono, Rabu (25/2), dalam diskusi Menjawab Tantangan Global Dari Jogja Melalui Nilai Budaya Imlek, di UAJY.

Siswa dan mahasiswa mengejar nilai, dosen gampang memberikan nilai A dan B, dan orang tua puas jika rapor dan prestasi akademik anaknya bagus. "Hasil angka yang bagus, tak mendidik anak untuk punya mental bagus kala menghadapi risiko," ujarnya.

Slamet bercerita bahwa ketika ia mengambil gelar doktor di luar negeri, pernah melihat sejumlah temannya yang pulang tanpa membawa gelar. "Di sini, ketika orang mengambil gelar doktor, pasti dapat. Tapi di universitas-universitas luar negeri, belum tentu," ujarnya.

Pegawai negeri sipil (PNS) di luar negeri, kualitasnya jauh dibanding PNS Indonesia. PNS di Kantor Imigrasi Malaysia misalnya, sigap dan aktif melayani. Tak heran jika negara itu maju . Bukan karena penduduknya sedikit maka negaranya maju, tapi karena karakter dan mental warga di sana sudah terbentuk sejak di bangku sekolah, katanya.

Sementara di Indonesia, status sebagai PNS yang mendudukkan orang menjadi tenaga kerja dengan beban kerja nyantai, tanpa parameter pengawasan ketat, dan tanpa resiko dikeluarkan dari pekerjaan, membuat PNS amat kurang punya mental melayani dan berwirausaha.


Lukas Adi Prasetyo