MUKOMUKO, RABU- Sedikitnya lebih 12.000 siswa dari semua tingkatan di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, sampai saat ini ternyata masih belajar di kelas darurat. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak serius bagi mutu pendidikan daerah ini karena, efektifitas proses belajar mengajar di tempat darurat hanya sekitar 40 persen saja.
Dalam kondisi pendidikan di Mukomuko yang belum memuaskan, kondisi ini justru dikhawatirkan makin membuat dunia pendidikan di Mukomuko terus terpuruk dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, berdasarkan penelitian terhadap proses pembelajaran di kelas darurat, ternyata selama ini benar-benar sangat tidak efektif, kata Bupati Mukomuko Ichwan Yunus, ketika ditemui Kompas di Mukomuko, Rabu (27/2).
Gempa tektonik berkekuatan 7,9 skala Richter (SR) yang hingga saat ini terus diikuti gempa susulan berskala 5 SR hingga 7,2 SR, benar-benar berdampak besar bagi Mukomuko. Sebab, kata Ichwan Yunus, setelah hampir setengah tahun pascagempa menghancurkan ribuan rumah penduduk, sarana dan prasarana pendidikan serta berbagai infrastruktur public di daerah ini, pemerintah kabupaten (Pemkab) Mukomuko masih dipusingkan minimnya dana rehabilitasi. Akibatnya, hampir 90 persen fasilitas umum dan rumah penduduk yang rusak belum tersentuh perbaikan sama sekali.
Diakui, yang paling mendesak saat ini adalah perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Jika dikalkulasi sekitar 320 unit ruang kelas ambruk di Mukomuko, dengan jumlah murid rata-rata 40 orang per kelas, maka berarti lebih dari 12.000 siswa sampai sekarang masih belajar di kelas-kelas darurat seperti di bawah tenda-tenda yang sudah bocor dan ruang kelas yang retak-retak hampir ambruk.
Saya sungguh mengkhawatirkan persentase kelulusan ujian nasional tahun ini di Mukomuko bakal anjlok karena efektifitas belajar mengajar selama enam bulan belakangan sangat rendah. Sebab, r ibuan siswa yang tidak efektif belajar ini dari semua tingkatan mulai Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, ujar Ichwan Yunus.
Menurut Bupati Mukomuko, tidak efektifnya proses belajar mengajar sudah dikeluhkan oleh semua guru-guru dan siswa. Sebab, dalam suasana panas terik belajar di tenda jelas sangat menyiksa. Begitu pula jika hujan deras, kegiatan belajar terpaksa bubar karena tenda-tenda bocor. (ZUL)
Achmad Zulkani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar