Senin, 16 Maret 2009

Potong aksi Kekerasan,IPDN Percepat Wisuda

Potong Aksi Kekerasan, IPDN Percepat Wisuda

BANDUNG -- Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) mempersingkat masa belajar dua angkatan, yaitu angkatan 17 dan 18, hingga satu semester lebih dengan cara mempercepat wisuda. Menurut Rektor IPDN Ngadisah, cara ini diharapkan bisa memotong praktek kekerasan di lingkungan prajanya. "Tahun ini ada percepatan (wisuda) untuk memutus mata rantai kekerasan," kata Ngadisah kepada Tempo di Bandung kemarin.

Tahun ini IPDN akan mewisuda dua angkatan program diploma IV sekaligus. Materi pun dipadatkan sehingga wisuda bisa maju satu semester atau enam bulan lebih. Angkatan 17 akan diwisuda besok. Setidaknya 973 praja akan diwisuda oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto di kampus IPDN, Sumedang, Jawa Barat.

Adapun wisuda angkatan 18 pada September nanti. "Normalnya kami hanya wisuda setahun sekali tiap Agustus. Tapi, biar nuansa kekerasan cepat habis, Kami ingin mendidik dengan pola baru dengan sistem baru," katanya.

Menurut Ngadisah, kekerasan fisik masih terjadi di lingkungan mereka. Ia mengaku baru menindak praja senior setelah menerima laporan ada praja junior yang diperlakukan tak wajar oleh praja itu. Laporan serupa pernah dilaporkan Pembantu Rektor Tiga Bidang Kesiswaan.

"Sumber kekerasan biasa, ya, kontingen senior memanggil junior. Biasanya suka ada penggojlokan, pembinaan. Sudah kami bubarkan," ujarnya.

Kasus kematian dan kekerasan praja setiap tahun terus menambah daftar hitam IPDN. Kematian Wahyu Hidayat pada 2003 terulang oleh kasus Cliff Muntu, yang tewas pada 2007. Rekaman kekerasan praja yang menggegerkan masyarakat luas terbukti tak membuat kapok sebagian para calon camat itu sehingga kekerasan terkesan sudah menjadi budaya di IPDN.

IPDN sendiri kini menertibkan sejumlah kegiatan praja, seperti membatalkan pesiar dan hari libur pada akhir pekan, setelah tersiar kabar ada pemanggilan praja junior oleh seniornya di luar kampus.

Kasus terakhir yang membuat cela IPDN adalah kontroversi foto bugil SM--alumnus IPDN--yang beredar ramai di Internet. Kasus itu kini jadi penyelidikan Kepolisian Wilayah Priangan. "Kami sedang menyelidiki keaslian gambar dan sumber penyiaran," Kata Kepala Polwil Priangan Komisaris Besar Anton Charliyan. ANWAR SISWADI | ERICK P HARDI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar