Senin, 16 Maret 2009

Siswa Stres Jelang Ujian Nasional

Siswa Stres Jelang Ujian Nasional
Sekolah Beri Bimbingan Konseling
Jumat, 18 April 2008 | 15:14 WIB
Oleh Mawar Kusuma

Gunung Kidul, Kompas - Tingkat stres siswa SMA dan SMK cukup tinggi menjelang pelaksanaan ujian nasional pekan mendatang. Selain memberikan pelajaran tambahan pada sore hari dan uji coba soal, tiap sekolah meningkatkan bimbingan konseling bagi siswa.

Tingginya beban kejiwaan pada diri siswa ini, misalnya, dialami seorang siswa SMA Negeri I Nglipar, Gunung Kidul. Siswa perempuan kelas III itu pingsan ketika mengikuti uji coba ujian nasional (UN) beberapa waktu lalu. Kepada gurunya, siswa mengaku tegang dan stres karena takut tidak lulus UN.

"Dengan penambahan jumlah mata pelajaran yang diujikan, kegelisahan siswa meningkat. Dalam satu pekan, kami tingkatkan konseling menjadi dua kali plus diadakan renungan suci keagamaan untuk memperkuat mental siswa," ujar guru bimbingan dan konseling SMAN I Nglipar, Samin Toyo Suprapto, Kamis (17/4).

Tugas bimbingan dan konseling menjelang UN di SMAN I Nglipar semakin berat karena sekolah tersebut dalam tahap transisi menjadi SMK. Ini tahun terakhir sekolah tersebut berstatus SMA sehingga ada dua ruang untuk kelas III SMK dan SMA. "Kami harus membimbing siswa SMK dan SMA secara sekaligus dengan model bimbingan berbeda," katanya. Rawan kecurangan

UN pada 22, 23, dan 24 April akan diikuti 2.229 siswa SMA/MA dan 3.276 siswa SMK di Gunung Kidul. Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Gunung Kidul Ali Ridlo mengeluhkan penambahan jumlah mata pelajaran UN yang dilakukan secara mendadak. "Seharusnya pemberitahuan minimal tujuh bulan supaya persiapan lebih matang," tuturnya.

Anggota pemantau independen UN 2008, Andang Suhartanto, menambahkan, UN kali ini rawan kecurangan. Dengan tingginya beban kelulusan, tiap sekolah cenderung ingin membantu murid untuk lulus dengan berbagai cara. Tingkat kelulusan masih menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan serta prestise bagi sekolah.

Tahun lalu, lanjut Andang, ada sekolah yang sengaja meminta tim pengawas dan pemantau untuk menikmati kudapan justru ketika ujian masih berlangsung. "Secara emosional, sekolah ingin seluruh siswa lulus sehingga berupaya supaya anak menjadi lulus. Biasanya cara yang digunakan lebih santun dan memanfaatkan rasa ewuh pakewuh," kata Andang.

Supaya siswa tidak semakin tertekan menjelang ujian, Polisi Resor Gunung Kidul memutuskan tidak akan melaksanakan razia pelajar. Razia pelajar kembali dilakukan setelah rangkaian UN selesai. Kepala Bagian Bina Mitra Polres Gunung Kidul Ajun Komisaris Suharsono berharap siswa bisa lebih konsentrasi saat belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar