BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu sistem yang saling ketergantungan, saling melengkapi, dan saling terkait antara komponen yang satu dengan yang lain baik dari segi manajemen, kurikulum, tenaga kependidikan, sampai pada evaluasi pendidikannya. Baik buruknya pendidikan di suatu negara akan mencerminkan seberapa berkualitasnya sumber daya manusia yang ada di negara tersebut. Karena pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas pula. Namun, apabila pendidikan di suatu negara itu bobrok, maka akan terlihat pada sumber daya manusianya yang bobrok pula.
Pemerintah telah memberikan kebebasan kepada lembaga pendidikan dengan adanya desentralisasi pendidikan kepada sekolah sebagai satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan segala sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin yang nantinya diharapkan akan mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas yang mampu bersaing diera globalisasi ini. Oleh sebab itu pihak sekolah selalu berupaya semaksimal mungkin dalam memberdayakan segala sumber daya yang ada sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
Untuk menilai seberapa besar kualitas proses belajar mengajar disetiap sekolah, maka pemerintah mengadakan evaluasi dalam bentuk Ujian Nasional. Ujian nasional mampu memberikan gambaran apakah proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan pihak sekolah mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Pelaksanaan UN atau Ujian Nasional yang sebentar lagi akan dilaksanakan memberikan pertanyaan pada kita apakah UN tersebut penting atau tidak untuk dilaksanakan sebagai bentuk evaluasi belajar siswa selama belajar di lembaga pendidikan formal.
Banyaknya pihak yang merasa keberatan atau tidak setuju dengan adanya sistem UN ini, terutama para siswa selaku obyek dalam pelaksanaan UN tersebut. Ditambah lagi dengan adanya penambahan batas nilai minimum yang harus dicapai oleh siswa agar dapat lulus dari lembaga pendidikan tersebut.
Memang ada beberapa pihak yang setuju dengan diadakannya Ujian Nasional atau UN, tetapi tidak sedikit pula pihak-pihak yang menentang diadakannya Ujian Nasional.
Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap persiapan di SMA Negeri 4 Tangerang untuk menghadapi Ujian Nasional . Dengan penulis melakukan observasi ini, penulis akan mendapatkan informasi mengenai tanggapan atau pandangan masyarakat sekolah khususnya siswa SMA Negeri 4 sebagai obyek yang secara langsung mengikuti atau Ujian Nasional.
Penulis memilih SMA Negeri 4 untuk diadakan observasi karena SMAN 4 Tangerang merupakan salah satu sekolah terbaik di Tangerang. SMA Negeri 4 juga merupakan sekolah percontohan penggunaan KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk yang pertama kalinya di kota Tangerang. Penggunaan KBK di sekolah ini 1 tahun lebih cepat dibandingkan dengan sekolah lain di Tangerang. Selain itu pula banyaknya siswa yang berminat untuk mendaftar menjadi siswa di sekolah tersebut menjadi landasan bagi penulis apakah proses belajar mengajar di sekolah tersebut berjalan dengan baik dan nantinya akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang penulis ajukan adalah sebagai berikut:
1.1.1 Pendapat masyarakat sekolah mengenai Ujian Nasional
1.1.2 Persiapan pihak sekolah dalam menghadapi Ujian Nasional
1.1.3 Target yang ingin dicapai oleh pihak sekolah dengan adanya persiapan sebelum menghadapi Ujian Nasional
1.1.4 Hambatan-hambatan yang dirasakan sekolah dalam melaksanakan persiapan tersebut
1.1.5 Cara sekolah memotivasi para siswanya
1.1.6 Pengorganisasian dalam pelaksanaan Ujian Nasional di sekolah tersebut
1.1.7 Pengawasan pada saat Ujian Nasional berlangsung
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah yang penulis buat didalam laporan observasi ini adalah hanya sebatas pada perencanaan SMAN 4 Tangerang dalam menghadapi dan mempersiapan siswa-siswanya untuk mengikuti Ujian Nasional. Juga pada pengorganisasian dan pengawasan pada saat pelaksanaan Ujian Nasional tersebut selain itu pula penulis juga membatasi masalah mengenai masalah-masalah yang dihadapi pihak sekolah dalam persiapan dan pelaksanaan Ujian Nasional.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian dalam bentuk observasi ini adalah untuk mengetahui dan menguraikan mengenai persiapan Ujian yang dilakukan pihak sekolah sehingga nantinya diharapkan siswa kelas XII dapat lulus Ujian Nasional dengan nilai yang maksimal dan dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya.
Selain itu, observasi yang penulis lakukan guna menganalisis apakah persiapan yang dilakukan pihak sekolah mampu menghasilkan yang terbaik bagi siswa-siswanya dan mampu membuat siswa SMAN 4 Tangerang siap menghadapi Ujian Nasional.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Pengertian evaluasi menurut Edwind Wandt dan Gerald W.Brown (1977): evaluation refer to the act or rocess to determining the value of something yang berarti evaluasi merupakan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa evaluasi pendidikan adalah segala kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya.
Sedangkan menurut Lembaga Administrasi Negara,evaluasi pendidikan adalah proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan sehingga nantinya akan diperoleh informasi yang dapat dijadikan sebagai umpan balik untuk penyempurnaan pendidikan.
Dalam buku Pengantar Evaluasi pendidikan dikatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai, sampai dimanakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat dilaksanakan.
Bloom juga mengatakan pedapatnya mengenai evaluasi belajar yaitu: evaluation as we see it, is the systematic collection of evidence to determine wether in fact certain changes are taking place in the learner as well as to determine the amount or degree of changes in individual students (Bloom,at,al 1971)
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan adalah proses kegiatan yang berkesinambungan yang nantinya akan memberikan gambaran mengenai kemajuan belajar yang telah diperoleh oleh siswa selama mengikuti kegiatan atau proses belajar mengajar.
B. Teknik-Teknik Evaluasi
Untuk mengukur apakah kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah dapat berjalan dengan baik dan efektif maka perlu diadakan evaluasi bagi siswa agar dapat diketahui seberapa maksimalkah pembelajaran yang mereka pelajari dapat diterima atau diserap oleh mereka. Untuk itu diperlukan beberapa teknik evaluasi untuk dapat menggambarkan hasil yang dicapai oleh peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ada dua teknik dalam evaluai yaitu teknik tes dan teknik nontes.
a) Teknik Tes
Tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan dan membandingkan keadaan psikis dan tingkah laku individu.
Fungsi tes sendiri adalah sebagai alat pengukur peserta didik karena tes dapat mengukur tingkat kemajuan peserta didik selama mengikuti proses belajar mengajar selama periode waktu tertentu. Selain itu tes juga berfungsi sebagai alat pengukur keberhasilan suatu program belajar karena hasil tes akan dapat menggambarkan keberhasilan suatu program pengajaran.
Dalam teknik tes ini terdapat beberapa penggolongan tes antara lain sebagai berikut:
1) Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat ukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik terdiri dari beberapa macam tes antara lain:
(a) Tes seleksi
(b) Tes awal
(c) Tes akhir
(d) Tes diagnostik
(e) Tes formatif
(f) Tes sumatif
2) Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap terdiri dari berbagai macam tes antara lain:
(a) Tes intelegensi
(b) Tes kemampuan
(c) Tes sikap
(d) Tes kepribadian
(e) Tes hasil belajar
b) Teknik Non Tes
Teknik non tes memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (afektif) dan ranah keterampilan (psikomotorik). Beberapa macam non tes dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Pengamatan
2) Wawancara
3) Angket
4) Pemeriksaan dokumen
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Observasi penulis lakukan pada tanggal 24 Februari 2009 bertempat di SMA Negeri 4 Tangerang Jl.Padasuka 1 Pabuaran Tumpeng Tangerang
B. Informan
Dalam melakukan observasi, penulis memperoleh informasi dari
beberapa informan yang penulis mintai keterangannya mengenai data
yang penulis perlukan. Beberapa informan tersebut antara lain adalah Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum Bapak Drs.Nanang, Ibu Yeni Yaniarsih selaku guru ekonomi kelas XII, dan Indah (siswi kelas XII IPA 3).
C. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan ini penulis menggunakan metode studi kepustakaan yang dilakukan dengan cara mengumpulkan literature dari berbagai sumber, seperti buku- buku dan sumber referensi lainnya yang memuat berbagai kajian teori yang dibutuhkan penulis.
Di samping menggunakan metode kepustakaan, tim penulis juga menggunakan metode wawancara. Metode ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara terbuka dengan menanyakan beberapa pertanyaan kepada wakil kepala kurikulum, guru, dan siswa SMA Negeri 4 Tangerang mengenai Ujian Nasional. Penulis menggunakan pedoman wawancara agar hasil wawancara yang diperoleh sesuai dengan obyek yang diobservasi.
D. Instrumen pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah penulis sendiri yang didukung dengan teknik pengumpulan dan penelitian, diantaranya:
1. Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa key informan
2. Peneliti melakukan pencatatan secara langsung di lapangan atau di tempat observasi
3. Studi Dokumentasi dan Arsip
variabel Fokus
Ujian Nasional 1. Persiapan
2. Pelaksanaan
3. pengawasan
4. hambatan/Masalah
5. solusi
E. Teknik Analisis Data
Penulis akan menganalisis data-data yang diperoleh secara deskriptif untuk mendapatkan kesimpulan akhir dari hasil observasi yang telah penulis lakukan. Analisis data dilakukan sebelum dan setelah observasi dilakukan. Selama pengumpulan data dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:
1. Mengembangkan wawasan mengenai materi yang diobservasi dengan studi kepustakaan
2. Mengumpulkan data secara langsung dari beberapa informan
3. Meneliti ulang data dan mengelompokkannya kedalam satu format
4. Memaparkan data yang telah diperoleh kemudian dianalisis
5. Penarikan beberapa kesimpulan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Profil Sekolah
1. Nama Sekolah : SMA Negeri 4 Tangerang
2. Alamat Sekolah : Jl. Paasuka 1 Pabuaran Tumpeng
Kecamatan : Priuk
Kota : Tangerang
Provinsi : Banten
Telepon & Faksimile : 021- 5520538/5530654
3. Status Sekolah : Negeri
4. Status Akreditasi : A
Tahun Akreditasi : 10 Februari 2003
5. Jenjang Sekolah : Formal Standar
6. Tahun Berdiri Sekolah : 1978
7. LUas Tanah Sekolah : 3365 m2
8. Luas Bangunan Sekolah : 3884,20 m2
9. Status Tanah : Milik Sendiri
10. Nomor Sertifikat Tanah : AJ 755691 09.01.07.01.4.00545
11. Jumlah ruang Belajar : 27 Ruang
12. Lapangan Upacara/ Olah raga : 490 m2
13. Memiliki Ruang :
Lab IPA 108 m2
Lab Komputer 90 m2
Lab Bahasa 86.40 m2
Perpustakaan 112050m2
BP/BK 21.60m2
Osis 22.50m7
14. Waktu Belajar : Pagi Pukul 06.45
15. Jumlah Rombongan Belajar :
Kelas X 10 Ruang 354 Siswa
Kelas XI 9 Ruang 335 Siswa
Kelas IX 8 Ruang 320 Siswa
Jumlah 27 Ruang 1009 Siswa
16. Jumlah Guru :
PNS 46 Orang
PTT 5 Orang
Guru Bantu -
GTY -
Honor 9 Orang
17. Jumlah Pegawai/ tenaga TU :
PNS 5 Orang
Peg. Tetap Yay -
Honor 10 Orang
18. Visi Sekolah :
Menciptakan lembaga pendidikan formal berkualitas dan unggul dengan penguasaan IMTEK dan IMTAQ
19. Misi Sekolah :
Memberikan pendidikan pengajaran, latihan bimbingan dan layanan dengan metode sapaan, penghargaan, teguran, dan sanksi.
B. Perencanaan Kesiapan Ujian Nasional
Pelaksanaan Ujian Nasional membuat seluruh pihak mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapainya. Ujian Nasional akan dilaksanakan pada tanggal 20 April dengan jadwal sebagai berikut:
IPA IPS
Senin (20-04-09) 1. B.Indonesia (08.00-10.00)
2. Biologi (11.00-13.00) 1.B.Indonesia(08.00-10.00)
2. Sosiologi (11.00-13.00)
Selasa (21-04-09) 1. B.Inggris (08.00-10.00) 1. B.Inggris (08.00-10.00)
Rabu (22-04-09) 1. Matematika (08.00-10.00) 1. Matematika (08.00-10.00
Kamis(23-04-09) 1. Fisika (08.00-10.00) 1. Geografi (08.00-10.00)
Jum’at (24-04-09) 1. Kimia (08.00-10.00) 1. Ekonomi (08.00-10.00)
Perencanaan kesiapan Ujian Nasional tersebut antara lain dilakukan oleh pihak sekolah, guru, dan siswa SMA Negeri 4 tangerang. Perencanaan yang mereka lakukan antara lain sebagai berikut:
a) Pihak Sekolah
Untuk menghadapai Ujian Nasional, pihak sekolah melakukan berbagai macam persiapan antara lain persiapan administrasi mulai dari mendaftar peserta didik yang akan mengikuti Ujian Nasional, nomor Ujian untuk peserta didik, dan lain sebagainya. Kemudian persiapan personil yang terdiri dari Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional yang harus diketahui dan dipahamai oleh para guru. Persiapan ini lebih ditunjukkan kepada guru- guru. Sekolah mempersiapkan agar guru mengetahui dengan baik mengenai persyaratan lulus UN sehingga nantinya guru- guru tersebut juga dapat mensosialisasikan kepada peserta didik. Dan yang terakhir adalah persiapan kepada peserta didik, dalam melakukan persiapan ini sekolah lebih meningkatkan waktu dan proses belajar kepada siswa kelas XII. Jam belajar untuk mata pelajaran yang di UNkan lebih diperbanyak. Selain itu juga diadakannnya pengayaan kepada siswa kelas XII. Pengayaan di SMAN 4 Tangerang ini diberikan kepada siswa kelas XII baik IPA maupun IPS. Tenaga pengajar untuk pengayaan berasal dari guru- guru SMAN 4 sendiri. Mereka tidak mengadakan kerja sama dengan lembaga pendidikan lain. Pengayaan dilaksanakan pada bulan Januari- April atau sekitar 3,5 bulan sebelum Ujian Nasional dilaksankan. Setiap kelas mendapat 3 hari pengayaan selama seminggu dengan waktu dan jadwal pelajaran yang telah ditentukan sekolah. Perencanaan mengenai pengayaan telah dilakukan oleh sekolah pada awal ajaran baru dengan cara menyusun kepanitiaan yang terdiri dari para guru.
Sosialisasi pengayaan kepada wali murid dilakukan pada saat pengambilan rapor siswa. Dengan adanya pengayaan ini diharapkan siswa lebih mendalami lagi mengenai mata pelajaran yang akan di UNkan sehingga seluruh siswa dapat memenuhi target kelulusan dan diharapkan nilai yang diperoleh dapat lebih dari standar yang telah ditetapkan pemerintah. Pada tahun 2008, tidak semua siswa SMAN 4 Tangerang lulus dalam Ujian Nasional. Terdapat 2 siswa yang tidak lulus, hal ini bukan dikarenakan mereka tidak memenuhi nilai standar kelulusan namun karena mereka dengan sengaja mengundurkan diri atau tepatnya tidak mengikuti Ujian Nasional tanpa pemberitahuan yang jelas kepada pihak sekolah.
Dengan adanya peristiwa tersebut sekolah lebih mempersiapkan seluruh siswa untuk dapat siap mengikuti Ujian Nasional. Berbagai persiapan dan sosialisasi dilakukan. Sosialisasi dilakukan melalui para guru pada saat jam mengajar atau dengan mengundang siswa ke aula untuk mengikuti sosialisasi yang diberikan oleh kepala sekolah maupun wakasek bidang kurikulum. Dalam sosialisasi tersebut siswa diberikan gambaran mengenai prosedur pengisian lembar jawaban Ujian Nasional agar dapat terbaca oleh komputer, mengenai standar kelulusan, serta pengisian identitas diri pada lembar soal. Siswa juga diberikan motivasi agar mereka tidak takut dan khawatir dalam menghadapi Ujian Nasional. Mereka terus diyakinkan bahwa mereka pasti dapat mengerjakan soal- soal ujian tersebut.
b) Guru
Menurut penuturan dari Ibu Dra.Yeni Yaniarsih selaku guru Ekonomi Akuntansi kelas XII di SMA Negeri 4 Tangerang, beliau menyatakan nilai positif dan negatif yang terdapat dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Nilai positif dalam Ujian Nasional adalah dapat melihat sejauh mana tingkat kesiapan dari siswa baik kesiapan intelektual, fisik maupun kesiapan psikologisnya. Kemudian dengan adanya UN pemerintah jadi dapat melihat tingkat kesuksesan dari proses pembelajaran dalam kurun waktu 3 tahun tersebut. Selain itu UN juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dikarenakan adanya batas standar kelulusan yang harus dipenuhi siswa. Sedangkan hal negatif dari UN adalah pemerintah hanya melihat nilai beberapa mata pelajaran atau lebih tepatnya pemerintah tidak melihat proses pembelajaran yang telah dilakukan peserta didik dalam kurun waktu 3 tahun. Pemerintah hanya melihat hasil dari pada proses yang telah dilalui. Terkadang beliau sering mendengar keluhan dari siswa-siswanya yang mengatakan “ Belajar 3 tahun hanya dilihat 5 harinya saja, belajar banyak hal hanya dinilai 6 mata pelajaran saja”. Terkadang beliau juga merasa kasihan pada siswanya.
Untuk mengurangi sedikit kekhawatiran dan ketakutan pada diri siswa-siswanya, beliau selalu memberikan motivasi kepada anak didiknya dan memberikan yang terbaik dalam hal pengajaran kepada anak didiknya. Beliau tidak menginginkan anak didiknya ada yang tidak lulus. Beliau mengakui juga mempunyai beban dalam hal mengajar anak didiknya agar mereka dapat lulus semuanya. Untuk itu selama penambahan jam mengajar, beliau memanfaatkannya sebaik mungkin dengan cara memberikan berbagai macam soal-soal kepada peserta didik sehingga mereka terbiasa dalam mengerjakan soal ujian nanti. Soal-soal tersebut biasanya beliau dapatkan dari kumpulan soal-soal ujian sebelumnya sehingga peserta didik memiliki gambaran seperti apa soal ujian yang akan mereka hadapai. Biasanya tipe soal ujian tiap tahun tidak terlampau berbeda jauh.
Beliau juga mengungkapkan terdapat perbedaan jika mengajar kelas XII dengan kelas X atau XI. Mengajar kelas XII mempunyai beban moral tersendiri karena harus mengantarkan peserta didik agar dapat lulus ujian nasional. Selain mendidik dan mengajar beliau juga harus menjadi motivator bagi mereka.
Terkadang beliau merasakan kejenuhan yang dirasakan anak didiknya, karena untuk mata pelajaran ekonomi akuntansi jamnya diperbanyak sekitar 8 jam seminggu. Kejenuhan dan kebosanan mereka sangat terlihat jelas, oleh sebab itu beliau biasanya memberikan soal-soal kepada anak didiknya agar mereka yang aktif dalam belajar sehingga rasa ngantuk, jenuh dan bosan dapat diminimalisir. Beliau juga sering memberikan sosialisasi UN kepada anak didiknya agar mereka lebih memahami lagi prosedur UN.
c) Siswa
Untuk mempersiapkan Ujian Nasional hal yang mereka lakukan adalah mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Ada juga yang mengikuti pengayaan yang diadakan pihak sekolah, selain itu mereka juga belajar dan mengulang kembali pelajaran dari kelas X sampai dengan XII. Belajar kelompok juga sering mereka lakukan terutama pada saat try out yang diadakan pemerintah kota Tangerang. Mereka sering berkumpul untuk membahas soal-soal yang mereka anggap sulit. Mereka juga lebih sering bertanya kepada guru mengenai mata pelajaran dan materi yang mereka tidak bisa. Mereka juga membeli buku-buku bank soal untuk dapat melatih mereka mengerjakan soal-soal. Terkadang guru mata pelajaran juga memberikan mereka soal ujian tahun-tahun sebelumnya sehingga mereka memiliki gambaran bagaimana tingkat kesulitan yang akan mereka hadapi.
Untuk siswa jurusan IPA, biasanya mata pelajaran yang mereka takuti pada saat Ujian Nasional adalah matematika dan fisika. Dua mata pelajaran yang menbutuhkan ingatan sangat kuat. Mereka harus menghafal banyak rumus mulai dari rumus materi kelas X hingga kelas XII. Jika mereka salah rumus maka mereka tidak akan menemukan jawabannya atau mungkin malah salah memilih jawaban. Sedangkan tidak semua rumus dipakai pada saat mengerjakan soal ujian tersebut. Sedangkan untuk siswa jurusan IPS mata pelajaran yang mereka takuti pada saat Ujian Nasional adalah Ekonomi Akuntansi. Selain harus menghafal rumus, mereka juga harus menghafal teori. Terkadang siswa merasa bosan dengan mata pelajaran–mata pelajaran tersebut karena mulai semester 2 sekolah merubah jadwal pelajaran mereka. Mata pelajaran yang akan di UNkan lebih ditingkatkan frekuensi belajarnya. Terkadang untuk siswa IPS seminggu dapat belajar 8 jam untuk mata pelajaran Ekonomi Akuntansi. Menurut mereka ini juga dapat membantu mengurangi kekuatiran mereka dalam menghadapi UN namun hal ini juga dapat membuat mereka jenuh dan bosan belajar mata pelajaran tersebut.
Cara mereka memotivasi diri mereka agar terus mempersiapkan diri adalah dengan cara menanamkan dalam hati dan pikiran mereka dengan kata –kata “Saya Bisa, Saya Pasti Lulus” atau ada juga siswa yang menakut-nakuti diri mereka dengan berfikiran “Kalau Ga Belajar, Nanti Ga Lulus Gimana????” dengan menakut-nakuti diri sendiri siswa tersebut akan terpacu untuk belajar dengan alasan takut tidak lulus. Selain itu pola belajar juga mempengaruhi sejauh mana mereka memahami materi yang mereka pelajari. Ada siswa yang harus belajar ditempat yang tenang, ada yang sambil mendengarkan musik, ada juga siswa yang belajar dengan cara berteriak-teriak membaca buku. Mereka sebisa mungkin membuat diri mereka nyaman dalam belajar agar mereka siap menghadapi Ujian Nasional. Satu hal yang mereka lakukan lagi adalah banyak berdoa kepada Allah SWT agar mereka diberi kesiapan lahir maupun batin dalam menghadapi ujian. Selama ini mereka mendengar bahwa kebanyakan siswa yang tidak lulus justru adalah yang memiliki prestasi baik disekolahnya. Untuk itu mereka tidak ingin mengalami hal yang sama yaitu belum siapnya mental mereka dalam menghadapi Ujian Nasional.
C. Pengorganisasian Kegiatan Ujian Nasional
Berikut ini adalah daftar panitia pelaksanaan Ujian Nasional di SMA Negeri 4 Tangerang.
Penanggungjawab : Drs.H.Tatang Murdio H,M.Si
Tim Monitoring : 1. Ari Patria S.kom
2. Drs. Joko Ilmiyanto
3. Lestari Budiastuti, S.Pd
4. Titik Lestari,S.Pd
5. Drs. Saeful Bachri
Ketua Pelaksana : Drs. Nanang Suparman
Sekretaris : 1. Benur Rosmita,S.Pd
2. R.Dedeh Susilowati, S.Pd
Bendahara : 1. Titi Lidyaningrum,S.Kom
2. Drs. Enday Suriadana
Teknisi : Untung Maulana,S.Kom
Transportasi : Nugroho
Kebersihan Ruangan: 1. Agus
2. Sholeh
3. Pramono
Konsumsi : 1. Robiyanah, S.Pd
2. Warsiyah, S.Pd
3. Tri Lasih, S.Pd
Keamanan : Purwanto
D. Pengawasan Kegiatan Ujian Nasional
Pengawasan pada saat pelaksanaan Ujian Nasional di SMA Negeri 4 Tangerang ini selain diawasi oleh tim monitoring yang telah disusun sekolah, juga diawasi oleh Tim Independen yang terdiri dari dosen ataupun mahasiswa yang telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang. Sedangkan untuk mengawasi jalannya ujian di dalam ruangan, pihak sekolah mendapat bantuan dari guru luar sekolah. Ada beberapa guru perwakilan dari sekolah luar untuk menjadi tim pengawas ujian di SMA Negeri 4 Tangerang. Begitu pula sebaliknya, SMA Negeri 4 mengirimkan beberapa guru untuk mengawas di sekolah lain.
Dengan adanya silang guru pengawas ini diharapkan tidak akan terjadi kecurangan ataupun kerjasama dalam mengerjakan soal-soal ujian yang dilakukan guru dengan siswa.
E. Masalah-Masalah Dalam Ujian Nasional
Masalah-masalah yang biasanya ada pada Ujian Nasional adalah masalah –masalah yang berasal dari diri peserta didik itu sendiri. Ketidaksiapan mereka, rasa ragu,dan perasaan was-was/grogi menjadi penyebab utma banyaknya siswa yang tidak berkonsentrasi pada saat mengerjakan soal ujian itu. Dampak terburuk dari kejadian tersebut adalah banyaknya siswa yang tidak lulus dalam Ujian Nasional. Ketidaklulusan mereka bukan disebabkan karena mereka tidak mampu mengerjakannya/bodoh namun lebih karena kepada ketidaksiapan mental mereka. Faktor emosi dan psikis juga menjadi hal yang penting dalam menghadapi Ujian Nasional.
Selain masalah mental yang kurang siap, masalah lain adalah banyaknya siswa yang masih menganggap remeh Ujian Nasional sehingga persiapan yang mereka lakukan kurang maksimal padahal materi yang harus mereka kuasai sangatlah banyak. Selain itu banyak pula siswa yang mengharapkan kunci jawaban dari pihak luar. Hal tersebut membuat mereka terlalu menyerahkan masa depan mereka pada keberuntungan ataupun nasib. Memang sering sekali terjadi kebocoran dalam Ujian Nasional baik itu dari pihak dalam maupun dari pihak luar. Hasilnya adalah evaluasi belajar dengan diadakannya Ujian Nasional tidak menggambarkan kemampuan maupun tingkat keintelektualan seorang siswa secara keseluruhan karena banyak dari mereka yang lulus karena mendapat kunci jawaban atau bantuan dari orang lain.
F. Upaya Mengatasi Masalah Dalam Ujian Nasional
Untuk mengatasi masalah Ujian Nasional dalam hal kebocoran kunci jawaban, perlu diadakannya koordinasi maupun pengawasan mulai dari pusat hingga ke satuan pendidikan agar tidak ada kesempatan bagi siapapun untuk mencuri soal maupun kunci jawaban Ujian Nasional. Jika diperlukan, dapat menggunakan jasa polisiatau keamanan mulai dari pembuatan soal ujian hingga pendistribusian soal pada saat hari Ujian Nasional diadakan. Jika tidak ada celah untuk memberikan bocoran kunci jawaban kepada siswa, diharapkan siswa mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dan mengandalkan dirinya sendiri untuk mengerjakan soal-soal tersebut.
Sedangkan untuk mengatasi masalah kurangnya kesiapan mental, pihak sekolah dapat mengadakan siraman rohani atau doa bersama guna kelancaran mengerjakan Ujian Nasional. Selain itu mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK) lebih diintensifkan lagi agar pihak sekolah mengetahui kondisi fisik dan kejiwaan atau mental peserta didiknya. Pertemuan dengan pihak orang tua juga perlu dilakukan agar antara pihak sekolah dan wali murid terjalin komunikasi dan sama-sama mengetahui kondisi si anak agar dapat memberikan motivasi kepada mereka dan memberikan keyakinan bahwa mereka akan dapat lulus Ujian Nasional dengan nilai yang baik.
G. Pengalaman Penulis Dalam Ujian Nasional
Sebenarnya penulis adalah salah satu siswa yang amat sangat tidak setuju dengan diadakannya Ujian Nasional. Pada saat penulis mewawancarai siswa kelas XII, apapun yang mereka katakan adalah hal yang sama yang penulis rasakan pada saat penulis menjadi siswa kelas XII seperti mereka. Rasa ketidakadilan, juga perasaan takut amat penulis rasakan. Waktu itu penulis berfikiran buat apa belajar 3 tahun kalau hanya dilihat nilai dari 3 hari saja. Buat apa belajar belasan mata pelajaran kalau hanya yang dinilai 3 mata pelajaran saja. Walaupun ada Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang menilai banyak mata pelajaran,namun penulis yakin pihak sekolah akan sebisa mungkin membantu untuk mendongkrak nilai UAS. Mana mungkin sekolah membiarkan siswanya tidak lulus hanya gara-gara nilai UASnya ada yang di bawah standar.
Waktu itu penulis tidak terlalu memikirkan UAS. Yang menjadi fokus utama penulis adalah bagaimana penulis dapat lulus UAN. Mulai dari awal penulis menjadi siswi kelas XII, seluruh guru-guru yang masuk ke kelas untuk mengajar selalu mengingatkan tentang UAN. Terlebih pada awal semester 2, setiap upacara dan setiap guru mengajar tidak terlepas dari kata–kata UAN. Perasaan penulis ketika akan menghadapi Ujian Nasional SMA ini amat sangat berbeda pada saat menghadapi Ujian Nasional ketika penulis SMP. Ketika SMP penulis hanya belajar seminggu sebelum Ujian Nasional dilaksanakan. Namun. Ketika SMA penulis mempersiapkan itu sekitar kurang lebih 3 bulan. Biasanya penulis lebih menyukai pola belajar SKS (Sistem Kebut Semalam). Tapi baru pada UAN SMA ini penulis mempersiapkan diri sebaik mungkin. Penulis mengikuti Bimbel di Sony Sugema College (SSC) dan penulis juga ikut kegiatan pengayaan di sekolah. Dan yang lebih menyenangkan lagi, apapun yang penulis minta ke orang tua asalkan berkaitan dengan pendidikan pasti mereka turuti.
Satu hal yang penulis rasakan positif dari UAN adalah rasa kebersamaan penulis dengan teman sekelas semakin terasa. Semakin mendekati UAN , kami semakin dekat, semakin akrab. Karena jika UAN telah dilewati berarti saat perpisahan juga semakin dekat. Pernah suatu hari sebelum UAN, kami berkumpul di kelas. Kami sharing dan akhirnya mencari strategi agar kami dapat lulus semua. Salah satu diantara kami ada yang bicara “Kita masuk bareng, keluar juga harus bareng. Buat yang pinter jangan lupa bantuin yang ga bisa. Pokoknya jangan pelit-pelitlah. Sama-sama saling bantu, jangan ada yang ditutup-tutupin”. Dan semua kata-kata tersebut terbukti. Pada saat UAN berlangsung, kami memang saling terbuka dengan lembar jawaban kami. Setiap ada yang bertanya, kalau penulis sudah, pasti penulis kasih tahu. Begitu juga dengan yang lain. Apalagi ketika pelajaran Bahasa Inggris, satu teman penulis yang memang pintar Bahasa Inggris, memberikan kode jawabannya menggunakan tangan pada saat listening Bahasa Inggris.
Pada saat UAN kebetulan penulis terpisah dari teman- teman satu kelas. Dari kelas XII IPS 3 hanya 7 orang termasuk penulis yang 1 kelas dengan XII IPS 4. pada saat itu yang duduk dibelakang penulis adalah Anggi siswa kelas XII IPS 4. Penulis mulai mengenal dia pada saat awal try out pertama, dari sana kami sering memberi contekan satu sama lain. Bahkan ketika UAN, sebelum masuk dia bicara pada penulis supaya jangan lupain dia. Maksudnya adalah jangan lupain bantuin dia mengerjakan soal. Walaupun soal kami berbeda, namun dia sering menanyakan soal dia pada penulis. Dia juga sering membantu temannya yang sama soalnya dengan penulis dengan cara menyebutkan jawaban penulis pada temannya itu.
Yang penulis tahu, anak-anak XII IPS 3 adalah anak- anak yang bandel, rusuh, suka bikin kesel guru- guru bahkan pernah ada guru yang sampai tidak ingin mengajar lagi di kelas kami. Ternyata dibalik sikap dan sifat mereka yang menurut guru- guru negatif, namun buat penulis mereka adalah teman- teman terbaik, yang dapat diajak berbagi (berbagi contekan), bisa diajak kerja sama, temen yang saling mengerti kondisi temannya yang lain.
Sebenarnya malam sebelum UAN penulis juga yang lainnya mendapat jarkoman sms jawaban UAN. Bocoran jawaban yang kami terima sangat beragam. Semuanya kami catat walaupun kami tahu ada jawaban yang beda rayon dengan soal ujian kami. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pagi saat hari pertama Ujian Akhir Nasional, penulis datang lebih awal ke ruang ujian. Dan pada saat penulis sampai, ternyata teman-teman penulis sudah banyak yang datang. Penulis terkejut ketika penulis datang mereka sedang sibuk menulis kunci jawaban yang dirasa benar- benar cocok dengan kode soal kami nanti. Benar saja, pada saat mengerjakan soal hari pertama yaitu bahasa Indonesia, penulis merasa jawaban yang tadi ikut penulis catat cocok dengan soal yang penulis kerjakan. Penulis sempat menghafal beberapa jawaban dikertas yang penulis tulis kunci jawaban itu. Penulis yakin penulis tidak akan berani untuk membuka kertas yang berisi kunci jawaban tersebut, untuk itu penulis menghafalnya. Penulis tidak berani membuka karena posisi duduk paling depan dekat dengan meja pengawas. Untuk itu penulis lebih baik bertanya kepada teman penulis daripada harus membuka kunci jawaban yang sudah penulis simpan.
Pada hari pertama UAN kebetulan penulis sedang sakit gigi dan kepala penulis terasa pusing. Sempat penulis merasakan badan penulis gemetar mungkin itu karena rasa dek-dekan dan grogi menghadapi UAN. Dan pada saat mengerjakanpun penulis masih merasa pusing. Sempat terfikir oleh penulis apakah penulis dapat lulus UAN atau tidak. Tapi penulis tetap mencoba untuk optimis saja bahwa penulis pasti lulus UAN. Pada saat jam mengerjakan berakhir dan para pengawas juga telah meninggalkan ruangan, penulis menyamakan jawaban dengan kunci yang penulis punya dan dengan jawaban milik teman-teman dekat penulis. Hasilnya memang tidak terlampau jauh. Yang menbuat penulis senang adalah sebagian besar soal-soal tersebut penulis selesaikan dengan kemampuan penulis sendiri walaupun ada sebagian kecil sih yang bertanya pada teman penulis.
Hari kedua ujian adalah mata pelajaran Ekonomi Akuntansi, mata pelajaran yang dikhawatirkan sebagian besar siswa IPS termasuk penulis. Sebenarnya sekolah telah mempersiapkan kami secara matang mengenai mata pelajaran ini. Caranya adalah dengan memperbanyak jam pelajaran ini. Waktu itu seminggu penulis belajar akuntansi 4 jam dan ekonomi 4 jam. Sebenarnya penulis juga merasa bosan belajar ekonomi akuntansi terlalu banyak. Setiap pertemuan harus mengerjakan soal-soal terus. Pernah waktu itu penulis ketiduran pada saat pelajaran ekonomi. Kebetulan penulis dekat dengan guru tersebut dan penulispun alhamdulillah tidak pernah diremedial mata pelajaran itu. Sebenarnya penulis menyukai pelajaran ekonomi akuntansi, tapi jika terus- menerus diberikan penulis juga merasa bosan.
Pada saat mengerjakan UAN Ekonomi Akuntansi, penulis merasa yakin mampu menjawab soal-soal akuntansi dengan benar. Yang bikin penulis takut adalah tidak semua jawaban ekonomi yang penulis yakini benar. Jawaban- jawaban yang penulis tidak yakin, penulis tanyakan kembali ke teman-teman penulis. Ada jawaban yang penulis ganti dan ada jawaban yang tetap penulis yakin bahwa jawaban penulis benar. Hari kedua ujian penulis lewati dengan perasaan jauh lebih tenang dan santai.
Hari ketiga adalah hari terakhir UAN. Mata pelajarannya adalah Bahasa Inggris. Mata pelajaran yang tidak penulis sukai setelah komputer. Agak was-was juga pada saat mengerjakan soal-soalnya. Dihari ketiga ini penulis lebih sering bertanya pada teman. Agak penulis sesali juga kenapa penulistidak menyukai pelajaran bahasa inggris. Padahal penulis tahu benar kalau Bahasa Inggris adalah bahasa yang universal dan penulis seharusnya wajib menguasainya. Setelah selesai mengerjakan soal-soal tersebut, penulis keluar kelas dan mencari teman-teman penulis. Hal yang penulis lakukan adalah menangis, takut kalau penulis tidak akan lulus di bahasa inggris. Jika penulis tidak lulus, bukan hanya penulis saja yang sedih dan kecewa. Penulis akan lebih mengecewakan kedua orang tua penulis, penulis akan membuat mereka sedih dan malu jika penulis tidak lulus. Untuk itulah penulis tidak ingin mengecewakan mereka. Karena mereka sudah memberikan yang terbaik buat penulis.
Selesai UAN, belajar di sekolah lebih santai karena kami hanya tinggal menghadapi ujian praktek dan UAS penulis. Pada saat itu penulis tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu berkumpul dengan teman-teman penulis. Karena sekitar 2 bulan lagi kami akan berpisah dan pastinya akan jarang bertemu. Mulai saat itu penulis jadi sering telat pulang kerumah karena setelah jam pulang sekolah penulis bermain atau ngobrol-ngobrol dulu disekolah dengan teman- teman penulis. Tapi penulis sudah minta izin terlebih dahulu dengan orang tua penulis jika penulis pasti pulang telat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Ujian Nasional sebagai alat evaluasi pembelajaran bagi siswa yang dilakukan oleh pemerintah merupakan hal pro dan kontra. Artinya da beberapa pihak yang setuju dengan adanya Ujian Nasional namun ada juga pihak yang tidak menyetujuinya terutama para siswa selaku obyek dari Ujian Nasional tersebut. Namun, dibaliksemua itu sebenarnya pemerintah memiliki tujuan dengan diadakannya Ujian Nasional yaitu agar dapat memetakan sudah sejauh mana pemerataan pendidikan di Indonesia. Dengan melihat hasil UN, pemerintah mengetahui daerah-daerah yang kualitas pendidikannya rendah sehingga dapat disalurkan bantuan baik yang materiil maupun yang non materill.
Ujian Nasional membuat seluruh elemen yang terlibat di dalamnya melakukan berbagai macam persiapan. Mereka mengharapkan persiapan yang dilakukan mampu menghasilkan yang terbaik bagi mereka. Segala cara mereka persiapkan agar bukan hanya kematangan intelektual yang harus dipersiapkan namun juga kesiapan hati atau mental. Bahkan pengorganisasian dibentuk sekolah guna membantu kelancaran jalannya Ujian Nasional.
Namun, berbagai macam kesiapan telah dilakukan tetap saja ada hambatan-hambatan atau masalah yang terjadi pada saat pelaksanaan Ujian Nasional antara lain adalah kurang kesiapan dari diri siswa sendir dan yang lebih fatal adalah terdapat kebocoran-kebocoran kunci jawaban Ujian Nasional. Ironisnya, kejadian in berlangsung hampir setiap tahun diadakannya Ujian Nasional. Hal ini penulis rasakan sendiri pada saat mengkuti Ujian nasional SMA tahun 2007 lalu.
B. Saran
Ujian Nasional bagi bukan merupakan cara yang tepat untuk melakukan suatu evaluasi belajar bagi siswa.karena Ujian nasional tidak mampu menggambarkan secara keseluruhan mengenai kemampuan dan keberbakatan siswa. Ujian Nasional cenderung hanya menilai segi konitif siswa saja sedangkan segi afektif maupun psikomotor sering sekali diabaikan. Banyak anak-anak cerdas dan berbakat yang menonjol dari segi afektif dan psikomotornya.
Oleh sebab itu penulis menyarankan agar evaluasi belajar menilai secara menyeluruh mulai dari ranah kognitif,psikomotorik, hingga ranah afektif anak didik. Dan hal yang paling cocok untuk menilai ketiga ranah tersebut adalah dengan pemberian nem kepada peserta didik.
Dengan penggunaan nem akan terlihat pada domainatau ranah mana keberbakatan anak menonjol sehingga nantinya kompetensi yang mereka miliki dapat mereka ketahui dan dapat mereka kembangkan dengan semaksimal mungkin.
Minggu, 31 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar